Posted on: 24/04/2026 Posted by: Petrus Letsoin Comments: 0

KOMSOS – Rangkaian Minggu Panggilan ke-63 di Keuskupan Agats resmi dibuka melalui perayaan misa syukur yang berlangsung khidmat di Gereja Kristus Raja Mbait, Jumat (24/04/2026).

Perayaan Ekaristi tersebut dipimpin oleh Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Agats, RD. Innocentius Rettobjaan, didampingi sejumlah imam yakni RP. Yulius Hirnawan Christyanto, OSC, RD. Hillarius Salmon, RP. Ferdinand Ketupapa, OSC, serta RD. Herman Yoseph Babey.

Misa pembukaan ini diikuti dengan penuh antusias oleh anak-anak Sekami (Serikat Kepausan Anak Misioner) dan remaja SMP dari wilayah Bismam, yang menjadi bagian penting dalam dinamika panggilan Gereja di tingkat akar rumput.

Dalam homilinya, RD. Innocentius mengajak umat dan anak anak untuk merenungkan kisah pertobatan Saulus yang kemudian dikenal sebagai Rasul Paulus. Ia menegaskan bahwa perjumpaan pribadi dengan Tuhan mampu mengubah arah hidup seseorang secara radikal.

“Saulus yang dahulu menghalangi para rasul dalam mewartakan kabar sukacita tentang Yesus, justru berbalik menjadi pewarta yang paling gigih. Ia mengalami transformasi total dan menjadi pribadi yang lebih baik,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa dalam Perjanjian Baru, banyak surat Rasul Paulus menjadi bukti nyata dari komitmen dan kesetiaannya dalam mewartakan Injil. Dari kisah tersebut, umat diajak untuk merefleksikan panggilan hidup masing-masing.

“Apa yang bisa kita pelajari? Kita yang berkumpul di sini dipanggil untuk merasakan kembali perjumpaan dengan Tuhan, merefleksikan hidup, dan membangun semangat serta komitmen baru,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa momentum Minggu Panggilan bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan saat rahmat untuk memperbarui diri. Umat, khususnya kaum muda, diharapkan mampu menjadi “Paulus-Paulus masa kini” yang berani diutus untuk mewartakan kabar sukacita Injil di tengah dunia.

Dalam bagian lain homilinya, RD. Innocentius menggarisbawahi makna mendalam Sakramen Ekaristi sebagaimana ditegaskan dalam Injil Yohanes 6:53-56. Ia mengutip sabda Yesus tentang pentingnya menyantap Tubuh dan Darah-Nya sebagai sumber kehidupan kekal.

Pesan Injil tersebut, lanjutnya, menjadi inti kehidupan iman Kristiani bahwa melalui Ekaristi, umat dipersatukan secara mendalam dengan Kristus dan memperoleh kekuatan untuk menjalani panggilan hidup.

“Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Ini adalah inti dari kehidupan kita sebagai orang beriman,” ujarnya mengutip Injil Yohanes.

Suasana misa berlangsung penuh kekhusyukan, diwarnai nyanyian liturgi yang dibawakan dengan semangat oleh anak-anak dan remaja yang hadir. Kehadiran mereka mencerminkan harapan Gereja akan tumbuhnya benih-benih panggilan baru di tengah generasi muda Asmat

Leave a Comment