KOMSOS – Vikaris Jenderal Keuskupan Agats, RD. Innocentius Rettobjaan, menegaskan bahwa kehadiran SMAK Seminari Santo Yohanes Penginjil Asmat merupakan wujud komitmen Keuskupan Agats dalam menyiapkan kader-kader Gereja, baik calon imam maupun katekis, yang akan melayani umat hingga ke wilayah pedalaman Asmat, Papua Selatan.

Hal tersebut disampaikan Pastor Innocentius saat memberikan sambutan pada peresmian Asrama Siswa SMAK Seminari Santo Yohanes Penginjil Asmat oleh Gubernur Papua Selatan di Kampung Baru Mbait, Kabupaten Asmat, Sabtu (1/8/2026).

Mewakili Uskup Keuskupan Agats, Pastor Innocentius menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung pembangunan asrama dan keberlangsungan lembaga pendidikan tersebut.
“Kami mewakili Bapa Uskup menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah mendukung sehingga lembaga pendidikan ini dapat hadir dan terus berkembang,” ujarnya.

Ia mengungkapkan bahwa pada awal pendirian SMAK Seminari Santo Yohanes Penginjil Asmat, Keuskupan Agats berharap memperoleh dukungan dari Kementerian Agama. Namun dalam perjalanannya, harapan tersebut belum dapat terwujud sebagaimana yang direncanakan.
Karena itu, Keuskupan Agats akhirnya menjadi penopang utama dalam membangun dan mengembangkan lembaga pendidikan tersebut sebagai bagian dari misi pastoral Gereja.
Menurut Pastor Innocentius, gagasan mendirikan SMAK Seminari berawal dari hasil Musyawarah Pastoral (Muspas) Keuskupan Agats yang kelima. Dalam forum tersebut disepakati perlunya menghadirkan lembaga pendidikan yang secara khusus mempersiapkan kader-kader Gereja, baik calon imam maupun tenaga katekis.

“Selama bertahun-tahun Keuskupan Agats mengirim anak-anak calon imam ke Seminari di Waena. Kini kami berharap seluruh calon imam putra asal Asmat dapat mengawali pendidikan mereka di daerahnya sendiri sebelum melanjutkan ke jenjang berikutnya,” katanya.
Ia menegaskan bahwa kebutuhan tenaga pastoral dan katekis di wilayah Keuskupan Agats masih sangat besar. Banyak kampung di wilayah pedalaman yang membutuhkan pelayan Gereja sehingga pembinaan generasi muda menjadi investasi jangka panjang bagi pelayanan umat.

Meski menyadari besarnya biaya yang harus ditanggung, lanjut Pastor Innocentius, Uskup Agats tetap berkomitmen melanjutkan pembangunan dan pengembangan SMAK Seminari demi masa depan Gereja di Tanah Asmat.
“Walaupun Bapa Uskup mengetahui bahwa pembiayaannya sangat berat, beliau tetap melangkah maju karena yakin pendidikan ini merupakan investasi bagi masa depan Gereja dan masyarakat Asmat,” tuturnya.

Pastor Innocentius menjelaskan, sebagian besar peserta didik di SMAK Seminari Santo Yohanes Penginjil Asmat merupakan Orang Asli Papua (OAP) asal Kabupaten Asmat. Saat ini asrama menampung sekitar 85 siswa putra dan 35 siswi yang membutuhkan dukungan pembiayaan operasional secara berkelanjutan.
Ia juga menyampaikan bahwa hingga kini SMAK Seminari Santo Yohanes Penginjil Asmat telah meluluskan tiga angkatan alumni yang mulai berkarya dalam berbagai bidang pelayanan maupun pendidikan.

Mengakhiri sambutannya, Pastor Innocentius mengajak seluruh elemen masyarakat, pemerintah, Gereja, serta para dermawan untuk terus mendukung keberlangsungan pendidikan di SMAK Seminari Santo Yohanes Penginjil Asmat.
“Di tengah berbagai keterbatasan, kami tetap setia dan bangga mendidik anak-anak Asmat. Kami percaya dari tempat ini akan lahir generasi penerus Gereja yang beriman, berkarakter, dan siap mengabdi bagi bangsa, negara dan Asmat yang kita cintai. Atas semua dukungan yang telah diberikan, kami menyampaikan terima kasih kepada pemerintah kabupaten Asmat dan Provinsi Papua Selatan,” pungkasnya.

