KOMSOS – Semangat Pentakosta menjadi nafas utama dalam Pertemuan Nasional (Pernas) Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Pastoral Migran Perantau (KP-PMP) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yang berlangsung di Wisma KWI, Jakarta, pada 24–27 Mei 2026.
Mengusung tema “Merawat Bumi, Memulihkan Martabat, Mengembangkan Tata Kelola Komunitas yang Tangguh,” pertemuan ini menjadi ruang refleksi, konsolidasi, dan penyusunan langkah pastoral Gereja Katolik Indonesia dalam menjawab tantangan krisis ekologi dan persoalan migrasi yang semakin kompleks.
Tema tersebut berakar pada doa dan harapan Gereja yang diungkapkan dalam Mazmur 104:30, “Utuslah Roh-Mu ya Tuhan, dan jadi baru seluruh muka bumi.” Roh Kudus yang sejak awal penciptaan berkarya dalam alam semesta dan kehidupan manusia diyakini terus memelihara serta memperbarui dunia dengan kasih-Nya. Keyakinan inilah yang menjadi dasar pengharapan Kristiani di tengah berbagai krisis yang melanda bumi dan mengancam martabat manusia, khususnya para migran dan perantau.
Sebanyak 61 peserta mengikuti Pernas ini, terdiri atas Pengurus KP-PMP KWI, para Ketua Komisi KP-PMP Keuskupan dari seluruh Indonesia, serta perwakilan lembaga yang bergerak di bidang ekologi, migrasi, dan kemanusiaan. Pertemuan dibuka pada Hari Raya Pentakosta dan dipimpin oleh Ketua KP-PMP KWI, Mgr. Siprianus Hormat.
Dalam suasana persaudaraan dan sinodalitas, para peserta menempuh rangkaian proses yang diawali dengan pendalaman spiritualitas Kristiani sebagai sumber kekuatan dan harapan dalam perjuangan mewujudkan keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan. Selanjutnya, peserta bersama-sama melihat dan mendengarkan berbagai realitas yang dihadapi masyarakat saat ini, terutama terkait kerusakan lingkungan, migrasi, dan dinamika pelayanan pastoral yang telah dijalankan oleh komisi-komisi KP-PMP di tingkat keuskupan.
Melalui refleksi mendalam dalam terang Sabda Allah, para peserta diajak untuk membaca tanda-tanda zaman dan menemukan arah pelayanan yang semakin relevan dengan kebutuhan umat dan masyarakat. Proses tersebut kemudian bermuara pada penyusunan rencana aksi pastoral yang lebih integral, terukur, dan realistis.
Pernas menegaskan kembali komitmen Gereja Katolik Indonesia untuk terus hadir merawat alam ciptaan sekaligus memulihkan luka-luka sosial yang dialami kelompok-kelompok rentan. Perhatian khusus diberikan kepada para migran, perantau, masyarakat kecil, dan mereka yang terdampak oleh ketidakadilan sosial maupun krisis lingkungan.
Melalui semangat Pentakosta, peserta Pernas berharap lahir berbagai inisiatif konkret yang mampu memperkuat ketahanan komunitas, mendorong tata kelola yang lebih baik, serta menghadirkan tanda-tanda harapan bagi sesama dan seluruh ciptaan. Sebab, sebagaimana ditegaskan dalam Roma 5:5, pengharapan Kristiani tidak pernah mengecewakan karena kasih Allah senantiasa dicurahkan ke dalam hati umat-Nya melalui Roh Kudus.
Pertemuan Nasional KP-PMP KWI 2026 menjadi momentum penting bagi Gereja Katolik Indonesia untuk semakin meneguhkan panggilannya sebagai pelayan kehidupan, penjaga martabat manusia, dan sahabat bagi bumi yang sedang merindukan pemulihan.

