Posted on: 03/08/2026 Posted by: Petrus Letsoin Comments: 0

KOMSOS – Di balik sepotong kayu yang perlahan berubah menjadi karya seni, tersimpan ketekunan, kesabaran, dan jiwa seorang pengukir. Bagi Feri Kakonam, seorang wow ipits (pengukir) asal Kampung Youw, Distrik Betsbamu, mengukir bukan sekadar membuat patung atau memenuhi kebutuhan sebuah perlombaan. Mengukir adalah cara menjaga warisan leluhur agar tetap hidup dari generasi ke generasi.

Karena itu, ketika hasil Seleksi Ukiran dan Anyaman Asmat Tahun 2026 di distrik Betsbamu diumumkan dan namanya tidak termasuk dalam daftar karya yang lolos, Feri memilih menerima keputusan tersebut dengan lapang dada. Baginya, kekalahan dalam seleksi bukanlah akhir dari perjalanan seorang pengukir.

“Saya menerima keputusan dewan juri. Ada perwakilan dari setiap kampung di distrik sehingga kami juga mengerti posisi juri dalam memberikan penilaian,” ujar Feri dengan tenang.

Sikap itu mencerminkan nilai yang telah lama dijunjung para pengukir Asmat. Seorang wow ipits, katanya, harus memiliki hati yang besar untuk menerima setiap keputusan.

Ia percaya bahwa sebuah seleksi hanyalah salah satu bagian kecil dari perjalanan panjang seorang seniman. Yang jauh lebih penting adalah tetap setia menjaga budaya, merawat tradisi, dan terus menghasilkan karya yang menjadi identitas masyarakat Asmat.

“Kita mengukir bukan hanya untuk ikut seleksi. Kita mengukir untuk menjaga budaya dan tradisi. Karena itu saya akan tetap mengukir,” katanya.

Menariknya, Feri sama sekali tidak merasa karya ukirnya buruk hanya karena tidak terpilih. Sebaliknya, ia tetap meyakini setiap karya lahir dari kemampuan terbaik yang dimiliki seorang pengukir.

“Saya tetap menganggap ukiran saya yang terbaik. Tetapi saya juga mengakui masih banyak pengukir lain yang memiliki karya yang lebih baik,” ungkapnya.

Pengakuan itu menunjukkan kedewasaan seorang seniman. Ia tidak kehilangan rasa percaya diri, tetapi juga tidak menutup mata bahwa setiap pengukir memiliki keunikan, karakter, dan kualitas yang berbeda. Dalam dunia seni ukir Asmat, tidak semua karya dapat diukur hanya dengan menang atau kalah.

Bagi Feri, seleksi justru menjadi ruang untuk belajar, memperbaiki diri, dan terus berkarya. Semangatnya tidak berhenti di satu penilaian. Sebaliknya, ia menjadikannya sebagai motivasi untuk menghasilkan ukiran yang semakin berkualitas.

Di tengah modernisasi yang terus bergerak cepat, sikap Feri menjadi pengingat bahwa menjaga budaya membutuhkan ketulusan dan ketekunan. Warisan ukiran Asmat tidak akan bertahan hanya karena festival atau perlombaan, tetapi karena masih ada para wow ipits yang tetap memegang pahatnya meski tak selalu berdiri di podium.

Di tangan pengukir seperti Feri Kakonam, ukiran bukan sekadar karya seni. Ia adalah bahasa yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan, mengisahkan leluhur kepada generasi muda, dan menjaga agar identitas Asmat tetap hidup di setiap guratan kayu.

Mungkin tahun ini namanya belum masuk dalam daftar yang terpilih. Namun semangatnya telah menunjukkan makna kemenangan yang sesungguhnya: tetap berkarya, tetap rendah hati, dan tetap setia menjaga warisan budaya Asmat.

“Saya biasanya lolos seleksi dan ikut Festival Asmat Pokman, kali ini saya absen,” tutupnya.

Leave a Comment