KOMSOS – Pagi itu, Minggu (21/9), langit Agats masih berbalut kabut tipis saat jarum jam menunjuk pukul 07.30 WIT. Dari pelabuhan Feri, sebuah rombongan penting bertolak menuju Distrik Akat. Di antara mereka, tampak Uskup Keuskupan Agats, Mgr. Aloysius Murwito, OFM, yang menumpangi speedboat Maria Bintang Laut. Di belakangnya, speed lain mengiringi, membawa Bupati, Ketua DPRK, dan para kepala dinas.

Arus sungai yang tenang seolah memberi jalan bagi perjalanan iman itu. Tak sampai satu jam kemudian, speed mereka merapat di Kampung Cemnew. Dari kejauhan, sudah terdengar dentuman tifa berpadu dengan bunyi fu (seruling bambu tradisional Asmat) . Nyanyian adat dan teriakan penyambutan menggema, tanda ratusan umat telah menanti penuh sukacita di ujung jembatan tinggi yang menjulang.

Namun, perjalanan belumlah usai. Uskup yang masih dalam pemulihan kesehatan harus berhati-hati menaiki jembatan kayu itu. Beberapa anggota TNI-Polri Katolik dan pemuda kampung segera sigap mengangkat beliau ke atas jembatan, menyatukan tenaga dalam semangat pelayanan. Di sana, sebuah tandu sederhana sudah menunggu. Begitu Uskup duduk, arak-arakan pun dimulai.

Jalan menuju gereja baru St. Martinus de Pores seketika berubah menjadi panggung rakyat. Nyanyian adat menggema, anak-anak kecil penari berlarian sambil berteriak riang, teriakan khas penyambutan Asmat yang memecah suasana. Dari sisi kanan dan kiri jalan, umat berdiri berdesakan, melambaikan tangan, sebagian bahkan menitikkan air mata haru.

Arak-arakan itu akhirnya berhenti tepat di depan bangunan baru yang menjadi kebanggaan umat: Gereja Katolik St. Martinus de Pores. Atapnya menjulang, dindingnya kokoh, dan hari itu menjadi saksi peristiwa besar peresmian sekaligus dedikasi gereja.

Kegembiraan pecah saat Uskup memasuki halaman gereja. Dentuman tifa berpadu dengan tepuk tangan meriah. Setelah bertahun-tahun menanti, umat Akat akhirnya menyaksikan rumah doa yang mereka bangun dengan keringat, doa, dan harapan, resmi diberkati.

Bagi umat di Distrik Akat, hari itu lebih dari sekadar seremoni. Itu adalah perayaan iman, perjumpaan budaya dan gereja, serta tanda nyata bahwa sukacita injil telah berakar kuat di tanah Asmat.


