KOMSOS – Usai perayaan ekaristi syukur atas Dedikasi Gereja St. Marthinus de Pores, suasana halaman gereja tidak langsung mereda. Unat masih berkumpul, wajah-wajah penuh senyum, mata berbinar menyimpan haru. Dari barisan umat, tampil sekelompok kecil vokal group menuju ke depan gereja. Mereka sederhana saja: ada anak-anak dengan suara jernih, ibu-ibu dengan senyum keibuan, dan bapak-bapak dengan suara lantang. Mereka berasal dari Lingkungan Segwaard, Paroki Ayam.

Di hadapan umat, mereka mempersembahkan tiga lagu. Bukan sekadar hiburan, melainkan doa syukur yang mengalun dalam tiga bahasa daerah: Kei, Timika, dan rumpun Bismam. Setiap bait membawa makna, setiap nada adalah persembahan.
Hironimus Civi, salah seorang anggota vokal group itu, angkat bicara dengan suara bergetar namun tegas.
“Terima kasih kepada Orang Kei, Orang Mimika, dan Orang Bismam (Suru),” ucapnya.

Mengapa ucapan syukur itu ditujukan kepada mereka? Hironimus menjelaskan dengan penuh hormat: orang Kei dahulu datang sebagai guru, mengajarkan pengetahuan, memberi teladan dan kami kehidupan bersama. Orang Mimika hadir sebagai guru katekese, membimbing dalam iman.

Sejarah itu tak lepas dari kisah perjalanan iman umat Ayam. Bapa Aloysius, salah seorang tetua, menuturkan bahwa dahulu Segwaard datang dari Timika menuju Suru. Dari Suru, perjalanan iman itu berlanjut hingga ke muara kali Es, tempat orang Simai (Ayam) menetap dan berkembang. Dari sanalah benih-benih Gereja tumbuh, hingga hari ini berdiri megah dalam perayaan dedikasi.
Tiga lagu yang dinyanyikan dalam tiga bahasa itu bukan hanya ungkapan syukur, melainkan juga sebuah jembatan sejarah, pengingat akan jejak langkah iman yang ditorehkan oleh para leluhur, guru, dan pewarta Injil. Melalui nyanyian, Lingkungan Segwaard seakan berkata: “Kami tidak lupa. Kami berterima kasih. Kami bersyukur.”

Dan benar, di siang itu, halaman Gereja St. Marthinus de Pores Ayam tidak hanya dipenuhi suara umat, tetapi juga gema persaudaraan lintas bahasa, lintas budaya, dan lintas generasi.

