Posted on: 25/04/2026 Posted by: Petrus Letsoin Comments: 0

KOMSOS – Pelataran Gereja Kristus Raja Mbait siang itu tidak hanya dipenuhi suara tawa, tetapi juga getar harapan yang perlahan tumbuh di hati anak-anak. Hari kedua rangkaian Minggu Panggilan (MP) ke-63 yang digelar Komisi Karya Misi Kepausan Indonesia (KMKI) Keuskupan Agats menghadirkan suasana yang unik serius, namun tetap hangat dan menyenangkan.

Di sela pendalaman materi yang menyentuh dan permainan yang membangun kebersamaan, wajah-wajah muda tampak larut dalam pengalaman baru yang tak mudah dilupakan. Bagi sebagian dari mereka, ini perjumpaan pertama dengan dunia panggilan yang selama ini terasa jauh.Usai sesi materi dan jeda istirahat sore, dua siswi dari SMP Yapis Agats berdiri dengan senyum lebar. Mereka adalah Regina Asokome dari Kampung Airo, Distrik Kopay, dan Anggela Yohana Basimpan dari Kampung Biopis, Distrik Fait.

Dengan nada jujur, mereka mengungkapkan kebahagiaan yang tulus.“Kami senang sekali ikut kegiatan ini. Kami bisa dapat teman baru dari wilayah Bismam,” ujar Regina, disambut anggukan Anggela.

Lebih dari sekadar pertemanan, keduanya mengaku mendapatkan pemahaman baru tentang Gereja. Selama ini, mereka hanya mengenal sosok pastor dan suster. Namun melalui kegiatan ini, mereka mulai mengenal lebih dalam tentang ordo dan tarekat, sebuah wawasan yang membuka cakrawala iman mereka.

Pengalaman itu terasa semakin bermakna karena latar belakang mereka sebagai siswa sekolah berbasis Islam. Namun, justru di situlah mereka menemukan kekuatan identitas.

“Ini sama seperti di sekolah kami di Yapis. Tidak ada perbedaan, kami diterima sebagai teman dan saudara. Kami tetap bangga menjadi anak Katolik,” kata Anggela dengan senyum yang tenang namun penuh keyakinan.

Suasana kebersamaan juga dirasakan oleh anak-anak SEKAMI Stasi Uwus. Mereka mengaku awalnya ragu untuk bergabung dengan peserta dari paroki kota. Namun keraguan itu perlahan sirna.

“Awalnya kami takut, tapi ternyata mereka baik. Tidak membedakan kami. Mereka mau bergaul dengan kami,” ungkap salah satu peserta dengan polos.

Di tengah dinamika itu, tim Komsos Keuskupan Agats mencatat sebuah benih harapan yang mulai tumbuh. Beberapa peserta dengan mantap mulai menyebutkan cita-cita baru menjadi pastor atau suster. Inspirasi itu lahir dari kesaksian hidup para imam dan biarawan-biarawati yang mereka dengarkan selama kegiatan.

Minggu Panggilan ke-63 ini pun bukan sekadar agenda tahunan. Di Mbait, ia menjelma menjadi ruang perjumpaan tempat di mana tawa anak-anak, keberanian untuk bermimpi, dan bisikan panggilan Tuhan bertemu dalam satu kisah yang mengharukan.

Dan di antara riuh permainan serta sunyi refleksi, mungkin sedang tumbuh langkah-langkah kecil menuju altar pelayanan di masa depan.

Leave a Comment