Posted on: 19/04/2026 Posted by: Petrus Letsoin Comments: 0

KOMSOS – Di tengah riuh sukacita umat di Paroki St. Maria Mediatrix Nanai, kehadiran Aloysius Murwito bukan hanya disambut doa dan nyanyian, tetapi juga oleh barisan pria berwajah tegas dengan seragam hitam sederhana.

Di punggung baju mereka tertulis kalimat yang mencuri perhatian: “In Deo Speravi, Non Timebo.”Sebuah moto yang bukan asing itulah moto tahbisan sang Uskup sendiri: Kepada Allah aku percaya, aku tidak takut.

Mereka berdiri tanpa banyak bicara. Saat Uskup tiba di pusat paroki, mereka perlahan membuka jalan. Bukan dengan dorongan kasar, melainkan dengan gerakan tangan yang teratur, penuh hormat. Umat yang berdesakan pun mengerti, memberi ruang, seakan ada bahasa sunyi yang dipahami bersama.

Di depan wajah Uskup, langkahnya menjadi ringan. Ia berjalan di tengah umatnya, tetapi tak tersentuh desakan.Malam pun turun. Ketika sebagian besar umat telah kembali ke rumah, suasana di sekitar pastoran dan gereja justru tetap hidup. Di bawah cahaya lampu yang temaram, para pria berseragam hitam itu masih berjaga. Mereka tersebar di setiap sudut jalan—di depan pastoran, di halaman gereja, bahkan di jalur kecil yang mengarah ke pemukiman warga.

Kami bertanya kepada mereka,“Kalian buat apa?”Jawabannya sederhana, hampir tanpa nada heroik:“Kami ditugaskan untuk jaga Uskup. Kami ingin Uskup tidur nyenyak tanpa gangguan apa pun dari siapa pun.”Jawaban itu membuat siapa pun yang mendengar terdiam sejenak.

Tak ada nama besar yang mereka sandang. Mereka bukan “Pasukan Kristus”, bukan “Legium Christi”, bukan pula satuan resmi keamanan gereja. Mereka hanya dua puluh orang biasa sepuluh dari Kampung Nanai, sepuluh dari Kampung Amaita.

Namun malam itu, kesetiaan mereka terasa luar biasa.Sepanjang malam mereka benar-benar berjaga. Mata tetap awas, tubuh tetap siaga. Sesekali mereka berkomunikasi dengan kode jari, mengatur pergerakan orang yang masih datang atau melintas. Bahkan dalam perayaan Ekaristi keesokan harinya, mereka kembali hadir diam, sigap, memastikan setiap langkah Uskup berjalan aman dan tertib.

Tak ada sorotan kamera khusus untuk mereka. Tak ada tepuk tangan panjang. Namun di balik kelancaran seluruh rangkaian perayaan, ada tangan-tangan sunyi yang bekerja tanpa lelah.Mereka tidak mencari nama.

Mereka hanya ingin satu hal sederhana:Uskup mereka merasa aman. Dan mungkin, tanpa mereka sadari, kalimat di punggung baju itu bukan hanya milik sang Uskup. Malam itu, moto itu hidup dalam diri mereka:Kepada Allah aku percaya, aku tidak takut.

Leave a Comment