Posted on: 25/04/2026 Posted by: Petrus Letsoin Comments: 0

KOMSOS – Sore di pelataran doa Gereja Mbait menjadi tempat teduh, suara anak-anak dan remaja Wilayah Bismam perlahan berubah menjadi ruang perjumpaan antara iman, harapan, dan panggilan hidup yang mulai bersemi.

Mereka datang sebagai SEKAMI dan misdinar. Sebagian masih malu-malu, sebagian lain penuh canda. Namun di balik wajah-wajah muda itu, tersimpan satu kerinduan yang sama: ingin mengerti, untuk apa mereka hadir di dalam Gereja.

Di hadapan mereka, RD. Anes Laritembun berdiri dengan senyuman khasnya. Tidak dengan bahasa yang tinggi, tetapi dengan kata-kata yang dekat dengan kehidupan mereka. Ia mengawali dengan sesuatu yang sangat mendasar apa itu SEKAMI, dan siapa itu misdinar.

Perlahan suasana menjadi hening. Anak-anak yang biasanya aktif bergerak mulai duduk tenang. Mereka mendengar tentang diri mereka sendiri bahwa mereka bukan sekadar “petugas altar”, bukan hanya anak-anak yang membantu saat misa. Mereka adalah bagian dari Gereja yang hidup.

“Kalian adalah misioner cilik,” ucap RD. Anes.

Kalimat itu seperti mengetuk hati. Ada yang tersenyum kecil, ada yang menunduk, mungkin mulai berpikir. Sebuah identitas baru perlahan ditanamkan bahwa mereka punya peran, punya arti.

Ia lalu mengajak mereka melihat lebih dalam: bagaimana menjadi misioner di tengah dunia yang tidak selalu ramah. Dunia yang sering terasa besar, keras, bahkan menakutkan.Namun di tengah rasa gentar itu, ia menghadirkan tiga tanda sederhana: salib, lilin, dan wiruk.Salib, katanya, adalah keberanian untuk bersaksi.

Bahwa menjadi pengikut Kristus berarti berani hidup benar, meski tidak selalu mudah.Lilin, adalah terang. Iman yang tidak boleh padam. Iman yang harus menerangi hati, pikiran, dan setiap langkah kecil mereka di rumah, di sekolah, dan di tengah teman-teman.

Dan wiruk, dupa yang naik perlahan ke atas menjadi simbol doa. Bahwa hidup mereka, sekecil apa pun, bisa menjadi persembahan yang harum bagi Tuhan.

Di pelataran sederhana itu, makna-makna besar disampaikan dengan cara yang sederhana. Tidak ada kemegahan, tidak ada gemerlap. Namun justru di situlah, sesuatu yang lebih dalam terjadi: benih-benih iman mulai ditanam.

RD. Anes tidak menutup dengan teori, tetapi dengan sebuah ajakan yang kuat.“Kalau dunia terasa besar dan menakutkan, jangan lari. Jadikan Kristus sebagai senjatamu.”Kalimat itu menggantung di udara, seakan ingin tinggal lebih lama di hati setiap anak yang hadir.

Sore pun perlahan berganti. Tawa kembali terdengar. Anak-anak kembali bergerak, kembali menjadi diri mereka yang ceria. Namun ada sesuatu yang berbeda mereka pulang tidak lagi sama.

Dari pelataran doa Gereja Mbait, mungkin tidak langsung lahir perubahan besar. Tetapi di sana, telah tumbuh sesuatu yang jauh lebih penting: keberanian kecil, iman yang mulai menyala, dan mimpi sederhana untuk menjadi terang.Dan dari merekalah, Gereja masa depan perlahan sedang dibentuk.

Leave a Comment