Posted on: 10/05/2026 Posted by: Petrus Letsoin Comments: 0

KOMSOS – Di ruangan Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat, Sabtu (9/5/2026), suara Petrus Semendoro terdengar bercakap cakap. Anak Asmat dari Kampung Semendoro, distrik Safan itu duduk bersama peserta lain dalam kelas budaya Asmat. Di hadapannya, rekan rekan dari Asrama Putra Yan Smit berbicara tentang ukiran, sungai, dan perahu yang sejak lama menjadi bagian hidup masyarakat pesisir rawa itu.

Namun ketika sesi berbagi pengalaman tentang perahu Asmat dimulai, Petrus seperti membuka kembali perjalanan panjang yang masih tinggal kuat di ingatannya.Ia bercerita tentang suatu pagi ketika dirinya harus pergi ke kota Distrik Safan, Primapun untuk mendaftar sekolah menengah pertama. Anak-anak lain berangkat menggunakan fiber bermesin dan longboat yang melaju cepat membelah laut. Sementara ia hanya memiliki perahu lesung milik keluarganya.

Awalnya ia merasa minder. Di tengah bunyi mesin yang meraung di atas air, Petrus berdiri di sisi perahu kayu yang sunyi. Ia membawa surat-surat pendaftaran dan perlengkapan seadanya. Bersama bapak, mama, dan adiknya, mereka mulai mendayung dari kampung menuju distrik.

“Kalau tidak berangkat waktu itu, mungkin saya harus tunggu tahun depan baru bisa daftar SMP,” katanya.

Perjalanan iitu tidak singkat. Mereka mendayung sekitar 6 jam lamanya. Dayung berpindah tangan secara bergantian. Mereka melewati laut terbuka dengan ombak yang mengguncang perahu kecil mereka. Bekal yang dibawa pun sederhana: sagu dan ikan.

Perahu lesung itu bergerak perlahan mengikuti arus. Dayung diangkat dan dicelupkan berulang-ulang, memecah permukaan air yang cokelat. Jika menggunakan mesin, perjalanan menuju distrik hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam. Tetapi bagi Petrus, perjalanan itu terasa jauh lebih panjang.

Berjam-jam mereka mendayung.Matahari naik perlahan di atas rawa-rawa Asmat. Angin sungai datang dan pergi. Tangannya mulai pegal, bahunya terasa berat, tetapi ia terus melaju bersama keluarganya. Sesekali fiber dan longboat melintas cepat di pesisir, meninggalkan gelombang kecil yang menggoyangkan perahu mereka.

Di tengah perjalanan itu, Petrus sempat merasa kecil di hadapan zaman yang terus berubah. Hampir semua orang mulai meninggalkan perahu lesung dan beralih menggunakan mesin. Perahu kayu perlahan dianggap lambat dan tertinggal.Namun Petrus tetap mendayung.Ia tidak meninggalkan perahu lesungnya. Di atas kayu sederhana itulah ia menjaga sesuatu yang lebih besar dari sekadar perjalanan menuju sekolah: ia menjaga budayanya.

Bagi masyarakat Asmat, Perahu telah menjadi bagian dari kehidupan. Sungai menjadi jalan utama yang menghubungkan kampung-kampung, sementara perahu menjadi penghubung manusia dengan keluarga, alam, dan tradisi leluhur.

Di saat yang sama, Petrus juga sedang menjaga mimpinya untuk terus berpendidikan. Setelah tiba di distrik, orang tuanya tinggal selama empat hari untuk mengurus seluruh berkas pendaftaran sekolahnya. Sebelum kembali ke kampung, ayahnya meninggalkan pesan sederhana yang terus diingat Petrus hingga sekarang.

“Jadi anak yang baik. Tidak perlu lawan guru. Jaga adat dan budaya kampung.”Pesan itu melekat kuat di hatinya.

Kini Petrus memiliki cita-cita menjadi pastor. Ia ingin belajar lebih tinggi, membantu masyarakatnya, dan tetap membawa nilai-nilai budaya Asmat dalam hidupnya.

“Perahu itu yang menolong saya. Kalau tidak ada perahu, mungkin saya harus menunda sekolah lagi,” ujarnya.

Cerita Petrus membuat ruangan kelas budaya itu mendadak hening. Beberapa peserta menunduk, larut dalam kisah sederhana yang menyimpan keteguhan besar. Sebab di balik perahu tanpa mesin itu, ada perjuangan seorang anak Asmat yang sedang belajar bertahan di antara dua arus zaman: tradisi yang diwariskan leluhur dan masa depan yang ingin ia capai. Dan selama dayung itu masih bergerak di atas sungai-sungai Asmat, harapan itu tampaknya akan terus hidup.

Leave a Comment