KOMSOS – Pembukaan Triduum III Regio Papua ditandai dengan perayaan Misa Syukur yang dipimpin oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Agats, RD. Innocentius Retobjaan, di Katedral Salib Suci Agats, Selasa (27/8/2025). Perayaan Ekaristi ini turut dihadiri sejumlah imam konselebran, serta diramaikan dengan nuansa budaya khas Asmat.

Suasana liturgi menjadi semakin khidmat ketika perarakan misa diiringi tarian tradisional dan lagu-lagu khas Asmat yang menggema di dalam katedral. Kekayaan budaya lokal yang berpadu dengan kekayaan iman ini menegaskan keindahan Gereja Katolik yang hidup di tengah masyarakat Papua.

Renungan: Teladan Santa Monika
Dalam homilinya, RD. Hilarius Salmon menekankan bacaan hari ini dengan mengangkat teladan hidup Santa Monika, ibu dari Santo Agustinus. Ia dikenal sebagai seorang ibu yang setia berdoa bagi keselamatan keluarganya, khususnya pertobatan suaminya, Patrisius, dan anaknya yang kelak menjadi seorang Bapa Gereja besar.
“Saudara-saudari sekalian, Santa Monika mengajarkan kepada kita kesabaran dan ketekunan doa. Doa yang tidak pernah putus untuk orang-orang yang kita kasihi. Ia adalah contoh nyata seorang ibu yang tidak menyerah pada keadaan, tetapi terus percaya bahwa kasih Allah bekerja dalam hidup anak dan suaminya,” ungkap RD. Salmon.

Ia juga mengingatkan bahwa firman Tuhan hari ini berbicara tentang kejujuran hidup. “Yesus dengan tegas menyatakan, jangan sampai perkataan kita berbeda dengan perbuatan. Jangan hanya kata-kata manis, tetapi perbuatan menolak kasih Allah. Orang Farisi disebut munafik karena menjadi penghalang bagi orang lain untuk mengalami keselamatan Allah. Pertanyaannya, apakah kita sungguh menjadi saluran kasih Allah atau justru penghambatnya?” tegasnya.
Doa Bagi Tanah Papua
Lebih jauh, RD. Salmon mengaitkan makna Triduum III ini dengan situasi nyata yang dihadapi masyarakat Papua. Menurutnya, pertemuan ini lahir dari kegelisahan, ketakutan, sekaligus harapan bersama.

“Kita mulai Triduum ini dengan satu doa: semoga tanah Papua menjadi tanah yang damai, diberkati, dan penuh kesejahteraan. Janganlah kita menjadi penghalang kasih Allah, tetapi justru menjadi saluran berkat bagi sesama dan bagi bumi yang kita cintai ini,” pungkasnya.
Dengan demikian, melalui doa dan teladan Santa Monika, umat diajak untuk menimba semangat iman yang teguh, kesetiaan dalam doa, dan ketulusan dalam mewujudkan kasih Allah, agar Triduum III Regio Papua sungguh menjadi jalan berkat bagi Gereja dan tanah Papua.


