Posted on: 28/08/2025 Posted by: Petrus Letsoin Comments: 0

KOMSOS – Aula Pusat Pastoral Keuskupan Agats menjadi saksi sebuah pertemuan penting dalam rangkaian Triduum III Regio Papua. Di hadapan para peserta yang hadir, Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Agats, RD. Innocentius Rettobjaan, atau yang akrab disapa Pastor Inno, menyampaikan arah dan sasaran pastoral Keuskupan Agats. Paparan ini bukan sebagai laporan perjalanan, tetapi juga undangan reflektif bagi seluruh umat untuk menimba semangat dari Musyawarah Pastoral (Muspas) yang telah dijalani.

Jejak Lima Muspas dan Pijakan Masa Depan

Pastor Inno mengingatkan bahwa Keuskupan Agats telah mengadakan Muspas sebanyak lima kali. Peristiwa terakhir berlangsung pada 7–13 Oktober 2019 di aula yang sama, mengusung tema: “Keluarga sebagai Panggilan dan Perutusan.” Tema itu lahir dari kesadaran mendalam bahwa keluarga adalah sel pertama Gereja, tempat iman dipupuk, kasih dirawat, dan perutusan hidup sehari-hari dijalankan.

Muspas V merekomendasikan gerak langkah pastoral untuk lima tahun ke depan. Ada tujuh bidang yang menjadi fokus perhatian: relasi suami-istri dan anak-anak, pendidikan, kesehatan, ekonomi, pastoral, kebudayaan, dan sosial. Bidang-bidang ini mencerminkan realitas sehari-hari umat di tanah Asmat, di mana iman tidak pernah terpisah dari perjuangan hidup, kesehatan, dan budaya yang diwarisi.

Dari Muspas ke Aksi Nyata

Pasca Muspas V, Keuskupan Agats tidak berhenti pada wacana. Tahun pertama diisi dengan sosialisasi hasil Muspas ke paroki, kuasi, dan stasi. Langkah ini memastikan setiap umat mengenal dan merasa memiliki arah pastoral yang digagas. Selanjutnya, rekomendasi Muspas dijabarkan dalam program dan kegiatan tahunan melalui Rapat Kerja (Raker) Keuskupan. Dengan cara itu, hasil Muspas tidak menjadi dokumen yang terlipat rapi di rak, tetapi menjadi nafas yang menggerakkan kehidupan umat.

Visi dan Misi: Membumikan Injil di Asmat

Visi pastoral Keuskupan Agats dirumuskan dengan indah:
“Terwujudnya keluarga sebagai panggilan dan perutusan yang berakar dalam budaya, bermartabat, sejahtera, mandiri, yang diterangi dan diilhami oleh nilai-nilai injili.”

Visi ini mencerminkan semangat untuk tidak mencabut umat dari akar budayanya. Injil tidak datang untuk menghapus, melainkan untuk menerangi dan memurnikan. Dari visi itu, lahirlah empat misi yang konkret:

  1. Mengembangkan model pastoral yang menyeluruh, kontekstual, partisipatif, dan inkulturatif.
  2. Mengembangkan katekese dan pembinaan iman yang memperkuat relasi keluarga dalam panggilan dan perutusan.
  3. Mendorong keterlibatan keluarga dalam kegiatan menggereja, menyiapkan masa depan anak-anak, melestarikan keterampilan tradisional, dan memperhatikan kesehatan keluarga.
  4. Mengembangkan kemandirian ekonomi keluarga, menanamkan nilai iman melalui teladan hidup, memelihara budaya lokal, dan menyiapkan generasi masa depan.

Refleksi: Keluarga Sebagai Sumber Hidup Gereja

Apa yang dipaparkan Pastor Inno sesungguhnya adalah sebuah ajakan untuk melihat kembali peran keluarga di tengah tantangan zaman. Di Agats, keluarga tidak hanya tempat tinggal, tetapi “rumah iman” yang menjadi benteng terakhir di saat pelayanan pastoral belum menjangkau semua pelosok.

Kekuatan pastoral Keuskupan Agats bukan pertama-tama terletak pada banyaknya program, melainkan pada keluarga-keluarga yang berakar dalam budaya, hidup dalam iman, dan siap menjadi saksi Kristus. Muspas V telah memberi peta jalan, dan perjalanan pastoral lima tahun terakhir menunjukkan bahwa umat Asmat mampu berjalan bersama dalam terang Injil.

Penutup

Pemaparan Pastor Inno dalam Triduum III ini menjadi momentum reflektif: apakah setiap keluarga sungguh telah menjadi “panggilan dan perutusan”? Visi dan misi yang ditetapkan Keuskupan tidak sebatas slogan, melainkan undangan bagi setiap umat untuk menjadikan rumahnya sebagai altar kecil, tempat kasih, iman, dan pengharapan ditumbuhkan. Dengan demikian, pastoral Keuskupan Agats sungguh bertumbuh di tanah, di hati, dan dalam keseharian umat Asmat.

Leave a Comment