KOMSOS — Sukacita iman menyelimuti umat di Gereja Katedral Salib Suci Agats, Rabu (22/04/2026), ketika Uskup Mgr. Aloysius Murwito menahbiskan dua frater menjadi diakon.

Uskup didampingi oleh RP. Yulius Hirnawan Christyanto, OSC dan RD. Fransiskus Vesto Labimaing dan turut dihadiri oleh para imam Keuskupan Agats.

Momen sakral ini menjadi tanda harapan baru bagi Keuskupan Agats di tengah keterbatasan tenaga imam.

Dua frater yang menerima tahbisan diakon adalah Fr. Leonardus Ferdinand Syufi, Pr dan Fr. Rahmat Syukur Waruwu, OSC.

Dalam perayaan yang khidmat, umat yang hadir menyaksikan dengan penuh haru bagaimana kedua calon pelayan Gereja ini menyerahkan diri sepenuhnya untuk karya Tuhan.

Dalam homilinya, Uskup Murwito mengungkapkan rasa syukur atas panggilan yang tumbuh di tengah generasi muda. Ia menegaskan bahwa di tengah banyaknya tawaran dunia yang menggiurkan baik dalam bidang birokrasi maupun politik masih ada kaum muda yang memilih menjawab panggilan Tuhan.

“Di antara begitu banyak pemuda, kita patut bersyukur karena di tengah sulitnya mendapatkan tenaga imam, ada saudara-saudara kita yang bersedia,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa menjadi imam bukanlah soal status atau kehormatan. Sebaliknya, panggilan ini adalah jalan pelayanan yang penuh pengorbanan. Para diakon dan calon imam akan diutus ke wilayah-wilayah yang sering kali minim fasilitas, dengan tantangan perjalanan jauh, ombak tinggi, serta cuaca ekstrem yang menjadi bagian dari realitas pelayanan di Asmat.

“Imam bukan sebuah status terhormat. Mereka akan melayani di kampung-kampung dengan segala keterbatasan. Ini adalah jalan pengabdian,” tegasnya.

Lebih lanjut, Uskup menjelaskan bahwa tahbisan diakon merupakan tahap penting sebelum seseorang ditahbiskan menjadi imam. Proses menuju imamat sendiri membutuhkan waktu panjang dan ketekunan, bahkan setelah menyelesaikan pendidikan menengah, seorang calon imam masih harus menempuh pendidikan sekitar sembilan tahun.

“Panggilan ini luhur, tetapi juga ringkih. Karena itu, kita tidak berjalan sendiri. Komunitas, rekan-rekan imam, dan umat menjadi kekuatan yang menopang,” ujarnya.

Mengacu pada ajaran Gereja, diakon memiliki dua tugas utama. Pertama, melayani sabda yakni mewartakan dan menjelaskan firman Tuhan secara relevan dengan situasi konkret umat. Kedua, melayani dalam karya amal kasih, hadir untuk menghibur dan meneguhkan mereka yang lemah dan menderita.

“Diakon adalah pelayan, adalah hamba. Maka sukacita sejati lahir dari pelayanan itu sendiri,” tambahnya.

Menutup homilinya, Uskup Murwito berpesan secara khusus kepada kedua diakon baru agar senantiasa membuka hati terhadap karya Tuhan dan setia dalam panggilan.

“Saudara Rahmat dan Saudara Leo, teruslah membuka hati untuk melayani. Kita semua diajak untuk berdoa dan bersyukur, karena hari ini Gereja menerima dua pelayan baru yang siap diutus,” pesannya.

Perayaan tahbisan ini tidak hanya menjadi momen penting bagi kedua diakon, tetapi juga menjadi pengingat bagi seluruh umat akan pentingnya mendukung dan mendoakan panggilan hidup bakti, demi keberlangsungan pelayanan Gereja di masa depan.


