Posted on: 18/04/2026 Posted by: Petrus Letsoin Comments: 0

KOMSOS – Suasana siang di muara Nanai berubah menjadi perayaan iman yang hangat dan penuh makna. Riak air yang biasanya tenang kini bergetar oleh deru mesin perahu dan sorak sukacita warga.

Di kejauhan, sebuah speed boat dengan nama Maria Bintang Laut melaju perlahan, membawa Mgr. Aloysius Murwito, OFM bersama rombongan menuju Kuasi Paroki Maria Mediatrix Nanai.Namun, perjalanan menjelma menjadi simbol perjumpaan: antara gembala dan umat, antara iman dan budaya, antara harapan dan kenyataan.

Puluhan perahu milik warga mengapit perjalanan sang uskup. Mereka datang dari berbagai sudut kampung, menyatu dalam satu irama penyambutan yang meriah. Di atas perahu-perahu sederhana itu, tampak wajah-wajah penuh sukacita anak-anak, orang muda, hingga para orang tua semuanya ingin menyaksikan secara langsung kehadiran gembala mereka.

Rombongan uskup sendiri terdiri dari para pastor, suster, serta petugas pastoral awam. Tiga kendaraan laut yang mereka tumpangi bergerak mantap menyusuri aliran air menuju pedalaman Keuskupan Agats.

Di tengah keterbatasan akses dan medan yang tidak mudah, perjalanan ini justru menjadi tanda nyata dari pelayanan yang setia dan hadir di tengah umat.

Setibanya di darat, suasana tak kalah semarak. Para tua adat Wair bersama warga telah menunggu dengan penuh kesiapan. Prosesi adat pun digelar, menandai penghormatan kepada tamu agung sekaligus peneguhan identitas budaya yang tetap hidup di tengah arus zaman.Langkah demi langkah Uskup disambut dengan ritual yang sarat makna sebuah ungkapan bahwa iman Katolik di tanah Asmat tidak berdiri sendiri, melainkan berakar dan bertumbuh bersama nilai-nilai lokal yang diwariskan leluhur.

Kehadiran Uskup Agats ke Nanai menjadi momen penting dalam peresmian gereja baru Kuasi Paroki Maria Mediatrix. Sebuah bangunan yang bukan hanya berdiri sebagai tanda harapan, persatuan, dan pertumbuhan iman umat di wilayah pedalaman.

Di balik dinding-dinding gereja yang baru, tersimpan kisah perjuangan panjang umat: dari mengumpulkan bahan, bekerja bersama, hingga menjaga semangat gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat setempat.

Hari itu, tanggal 18 April 2026 ini Nanai menyambut harapan yang diteguhkan, iman yang dirayakan, dan kebersamaan yang dipererat.

Di antara suara air, nyanyian, dan adat yang dijunjung tinggi, tersirat pesan bahwa gereja hidup di tengah umat yang bernafas dalam budaya, dan bertumbuh dalam kasih.

Leave a Comment