KOMSOS – Ratusan perwakilan Orang Muda Katolik dari lima Keuskupan se-Tanah Papua berkumpul dalam Papua Youth Day (PYD) II di Nabire. Mereka datang dengan semangat yang sama: Merayakan iman, persaudaraan, dan harapan untuk masa depan Papua. Namun, di antara lautan peserta, ada satu sosok yang begitu mencuri perhatian dan menggugah hati dialah Kaspar Bruno Barayap, satu-satunya peserta penyandang disabilitas netra yang hadir, mewakili Keuskupan Agung Merauke.
Kaspar, seorang tunanetra, tidak datang hanya untuk menjadi penonton. Sejak hari pertama PYD, ia sudah menjadi inspirasi besar bagi peserta lain. Dalam sesi pembukaan PYD II, Kaspar berdiri di tengah sorotan. Dengan suara lantang, dia menyampaikan pesan motivasi yang menggugah:
“Orang lain bisa, kenapa saya tidak bisa?
Sorak sorai dan tepuk tangan membahana. Namun, momen paling mengharukan adalah ketika Kaspar membawakan lagu “Tanah Papua, Surga Tersembunyi.” Suaranya yang merdu, penuh ketulusan, mengalun memenuhi ruangan. Banyak peserta tak kuasa menahan air mata, menyadari bahwa keterbatasan fisik tidak pernah mampu membatasi jiwa yang besar.

Hari kedua, di sela jam makan malam, suasana berubah menjadi lebih riang. Kaspar kembali menghidupkan suasana, kali ini dengan lagu-lagu goyang yang memancing tawa dan keceriaan. Kursi-kursi bergeser, peserta bergoyang bersama, seolah semua batasan dan perbedaan sirna dalam irama musik.
Tak banyak yang tahu, di balik penampilannya yang ceria, Kaspar memegang prinsip hidup yang kuat:
“Tuhan bilang, tidak ada yang mustahil. Tidak ada yang tidak mungkin. Yang sering membuat kita gagal adalah ketakutan kita sendiri untuk mencoba. Teruslah mencoba hal hal baru”
Ketika ditanya apa motivasinya hadir di PYD, Kaspar tersenyum, lalu berkata:
“Awalnya saya berpikir, mana mungkin ada OMK yang buta ikut acara seperti ini. Tapi saya sadar, saya tidak harus mengikuti standar sosial yang ada. Saya datang karena saya percaya, saya bisa melayani Tuhan dengan cara saya sendiri. Momen PYD ini, saya harus menyemangati orang muda Papua bahwa kita semua punya nilai, apapun kondisi kita.”
Kaspar juga membagikan pengalaman pahitnya, bagaimana dia pernah ditertawakan, dihina karena kondisinya. Namun ia tidak tenggelam dalam luka itu. Justru dari pengalaman itu, dia belajar untuk tidak hanya beriman, tapi juga berpengetahuan.
“Iman tanpa pengetahuan itu buta, pengetahuan tanpa iman itu lumpuh,” katanya bijak.
Bagi Kaspar, pengetahuan adalah kunci agar kita tidak mudah ikut arus, tapi mampu memilih yang baik dan benar. Dia tak ingin terjebak dalam penyesalan masa lalu, atau terlalu khawatir soal masa depan. Fokusnya adalah berkarya di hari ini, sekarang juga.
Dan memang, Kaspar adalah bukti nyata bahwa keterbatasan bukan akhir dari segalanya. Ia menguasai banyak alat musik, suaranya merdu, dan semangatnya menular.
Di PYD II Nabire, dia bukan sekadar peserta. Dia adalah wajah harapan, suara keteguhan, dan bukti bahwa meski matanya tak bisa melihat dunia, tapi hatinya melihat lebih jauh dari kita semua.
Kaspar Bruno Barayap, pemuda tunanetra dari Merauke, telah mengajarkan satu hal sederhana namun luar biasa:
“Kita mungkin berbeda, tapi kita semua punya peran, kita semua bisa bersinar.”

