Komsos – Mentari pagi belum sepenuhnya menembus pepohonan yang menyelimuti pedalaman Meda, namun halaman kecil di depan Pastoran telah dipenuhi wajah-wajah yang penuh harap. Bapa-bapa berdiri sambil memegang gitar, mama-mama menggenggam rosario erat-erat, dan anak-anak berlarian kecil.

Di atas rumah panggung Pastoran, Uskup Agats mulai tampak. Di sampingnya, Uskup membawa sebuah patung Bunda Maria yang indah – tinggi dan anggun, dengan rona wajah penuh kasih dan kedamaian.
Ketika Uskup bicara, semua hening. Ia berdiri di depan umat dan berkata dengan suara lembut namun tegas,
“Saudara-saudariku yang terkasih di Meda, hari ini Maria, Ibu Gereja dan Ibu kita semua, datang untuk tinggal bersama kalian. Dia datang membawa harapan, membawa cinta, dan membawa damai dari Putranya, Yesus Kristus.”
Mama-mama mulai menangis perlahan. Mereka tahu bahwa kehadiran Bunda Maria bukan sekadar simbol, melainkan pelukan dari surga bagi mereka yang selama ini berjuang dalam sunyi. Mereka mulai berdoa bersama, sementara suara gitar perlahan mengalun, mengiringi lagu “Bunda Maria, Bunda Gereja”.

Umat lalu berkumpul mengelilingi patung. Bunda Maria akan diarak. Bapa-bapa mengangkat tandu dengan penuh hormat, dan langkah demi langkah, mereka mulai berjalan menuju Goa Maria di rumah kecil di ujung kampung.
Di sepanjang jalan, doa Rosario terus berkumandang. Mama-mama berdoa sambil meneteskan air mata, mengucapkan syukur karena di tengah keterpencilan, Tuhan masih mengingat mereka. Bapak Bapak terus menyanyi di jalanan pasir, seolah menyambut Sang Ratu Surga.
Sesampainya di Goa, umat berkumpul kembali. Uskup memimpin doa Salam Maria dan memberkati patung.
“Maria kini tinggal di tengah kalian. Datanglah padanya. Ia akan selalu menunjuk kepada Yesus, Putranya, untuk menjadi terang dalam hidup kalian,” ujar Uskup.
Hari itu, langit Meda seolah ikut bersaksi. Cahaya lembut menembus awan, jatuh tepat di atas Goa Maria. Di tengah pelukan alam Papua yang sunyi, Bunda Maria kini hadir — dan umat Meda tahu, mereka tidak sendiri lagi.

