KOMSOS – Di Keuskupan Agats, sebuah keuskupan yang berada di Papua Selatan di mana sungai menjadi jalan dan rawa adalah halaman rumah, maka pelayanan pastoral disini bukan hanya soal pewartaan. Ia adalah soal perjalanan harfiah dan rohani. Dan di balik setiap langkah sang gembala, Mgr. Aloysius Murwito, OFM, ada dua sosok yang tak pernah disebutkan dalam khotbah, namun selalu hadir dalam setiap langkah: John, sang kameramen setia, dan Remon, driver yang tak gentar menghadapi medan terberat.
Remon: Sang Penakluk Sungai.

Setiap kali speedboat Uskup mulai menggeram di pelabuhan Misi Agats, Remon sudah di tempat. Tubuhnya ramping, kulitnya gelap terbakar matahari, dan tatapannya tajam, selalu waspada membaca cuaca dan arus sungai. Bagi orang luar, ia hanya seorang pengemudi. Tapi bagi Keuskupan Agats, Remon adalah nadi pergerakan pastoral.
Sudah lebih dari sepuluh tahun ia membawa Uskup menyeberangi sungai-sungai besar, menyusuri anak-anak kanal, menembus kabut dan hujan yang kadang datang tiba-tiba. Ia hafal titik-titik rawan, tempat di mana batang pohon bisa menyergap di bawah permukaan, atau arus bisa menyeret speedboat dalam sekejap. Remon tahu setiap tikungan sungai seperti telapak tangannya.
Namun, tak pernah sekalipun ia menunjukkan rasa gentar. Bahkan ketika mesin mogok di tengah sungai yang dalam, Remon tetap tenang. Ia membongkar mesin di atas speedboat yang oleng diterpa ombak, dan dalam doa yang hening, ia selalu percaya: Tuhan ikut berlayar bersama mereka.
Dialah yang memastikan Uskup dan timnya tiba tepat waktu ke stasi tujuan, meskipun kadang harus tidur di atas perahu, menyambung bensin dari jeriken, atau mendorong speed di lumpur atau gundukan tebu rawa. Ia percaya, setiap tetes keringatnya adalah bagian dari pelayanan.

John: Mata yang Menyaksikan.
Di belakang kamera, ada kisah-kisah yang hidup. Itulah yang dikerjakan John. Ia bukan hanya merekam gambar, tapi merekam kehidupan. Merekam jejak sang gembala dalam tiap perjalanan pastoral. Dengan bahu yang selalu memikul kamera dan tas penuh baterai serta alat dokumentasi, John berjalan bersama Uskup ke tempat-tempat yang tak disebut di peta wisata. Kampung-kampung terpencil, stasi-stasi kecil yang hanya bisa dicapai setelah berjam-jam menyusuri rawa.
John adalah saksi. Ia melihat Uskup memberkati bayi di tengah hujan, memimpin misa dengan altar dari papan kayu reyot, mendengarkan umat mengadu tentang sakit, kekurangan guru, atau harga bahan pokok. Ia menangkap dalam gambarnya bukan hanya wajah-wajah umat, tapi juga peluh dan cinta dari seorang Uskup yang mencintai domba-dombanya.
Dan meski tak selalu dalam sorotan, John tahu bahwa tugasnya penting. Suatu hari ia berkata, “Kalau saya tidak ikut, siapa yang akan menceritakan pada dunia bahwa kasih Allah juga hadir di pelosok ini?”
Setia dalam Perjalanan, Setia dalam Panggilan
Bersama-sama, Remon dan John menjadi seperti tangan kanan dan kiri dalam pelayanan Uskup. Mereka bukan imam, bukan frater, bukan biarawan. Tapi mereka hidup dalam semangat yang sama—semangat Injil. Mereka tahu bahwa dalam pekerjaan mereka yang tampak biasa, ada hal luar biasa yang sedang dikerjakan Tuhan.
Tak ada gaji besar. Tak ada fasilitas mewah. Tapi ada sukacita yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang benar-benar mengerti apa arti pelayanan. Mereka pulang dengan tubuh lelah, tapi hati penuh cinta.
Saat ditanya kenapa masih bertahan selama belasan tahun, Remon hanya tersenyum, “Kami jalan karena Tuhan sudah lebih dulu berjalan bersama kami.”
Dan John menambahkan pelan, “Kalau Uskup saja tidak lelah melayani, bagaimana kami bisa lelah mendampingi?”
Di balik setiap pemimpin besar, selalu ada orang-orang yang memilih untuk melayani dalam diam. Remon dan John adalah wajah dari pelayanan yang tulus, tanpa pamrih. Mereka adalah teladan bagi kita semua, bahwa kesetiaan, keberanian, dan cinta pada sesama tidak selalu tampil di atas mimbar—kadang ia hadir dalam suara mesin speedboat yang menyala, atau dalam klik kamera di tengah rawa.
Mereka adalah penjaga langkah sang gembala—dan lebih dari itu, mereka adalah saksi hidup dari Injil yang terus bergerak di tanah Papua.
Ketika Uskup ditanya siapa orang yang paling berjasa dalam setiap kunjungan pastoralnya, ia hanya tersenyum dan menunjuk dua sosok sederhana di belakang layar: John dan Remon

