KOMSOS – Hari itu, Hari Paskah, langit Karbis cerah menyambut kedatangan rombongan dari Keuskupan Agats. Ketika speedboat menepi di dermaga tanpa kayu, suara riuh anak-anak dan orang tua langsung terdengar. Mereka berlarian ke arah dermaga, wajah-wajah penuh antusiasme, tak sabar menyambut sosok yang mereka rindukan—Bapa Uskup.

Tanpa banyak basa-basi, Bapa Uskup turun lebih dulu. Ia berjalan santai menuju Gereja, hanya mengenakan celana pendek dan jaket biru tuanya. Sementara itu, kami yang lain masih sibuk di belakang, menurunkan barang bawaan: alat misa, tas logistik, dan perlengkapan lainnya.
Di tengah perjalanan menuju gereja, sekelompok anak-anak dan ibu-ibu yang penasaran mendekati pria berjaket biru itu.
“Kalian cari siapa?” tanya Uskup sambil tersenyum.
“Cari Bapa Uskup!” jawab mereka serempak.
Dengan gaya jenaka khasnya, Uskup menjawab, “Bapa Uskup masih di speedboat.”
Mereka sempat terdiam sejenak, lalu buru-buru berlari kembali ke dermaga. Namun, saat tiba di speedboat dan tak melihat siapa pun yang mirip “Uskup,” rasa tak yakin mulai muncul. Mereka saling pandang, lalu tertawa menyadari bahwa pria berjaket biru tadi memang Bapa Uskup sendiri.
Dengan senyum malu-malu dan tawa ringan, mereka segera kembali dan mendekati beliau. Tanpa ragu, mereka kini mengantar Uskup dengan penuh semangat ke gereja.

Sesampainya di sana, lonceng gereja mulai berbunyi. Misa akan segera dimulai. Anak-anak duduk rapi di depan, para orang tua mengisi bangku-bangku kayu, dan Uskup berdiri di depan altar, wajahnya damai, penuh sukacita.
Kunjungan itu bukan hanya membawa berkat sakramental, tapi juga tawa, kehangatan, dan kenangan kecil yang akan terus hidup dalam hati umat Karbis.

