Posted on: 23/11/2025 Posted by: Petrus Letsoin Comments: 0

KOMSOS — Uskup Keuskupan Agats, Mgr. Aloysius Murwito, OFM, memimpin Perayaan Ekaristi syukur Hari Ulang Tahun ke-56 Keuskupan Agats di Gereja Katedral Salib Suci, Minggu (23/11/2025). Misa berlangsung khidmat dan penuh syukur, dihadiri umat dari berbagai paroki, biarawan-biarawati, serta para pelayan pastoral.

Dalam homilinya, Uskup Murwito mengajak umat melihat kembali jejak panjang kehadiran Gereja Katolik di Tanah Asmat. Ia menuturkan bahwa sejarah iman di wilayah ini tidak terlepas dari jerih payah para misionaris terdahulu.

Uskup mengisahkan bagaimana pelayanan iman pertama kali ditaburkan oleh para misionaris MSC, khususnya Pastor Zegwaard, yang kemudian diteruskan oleh para katekis lokal. Perjalanan itu juga diperkaya oleh kehadiran para misionaris dari OSC.

“Dari pelayanan mereka, muncul komunitas-komunitas umat di berbagai tempat,” ujar Uskup. “Dari komunitas itulah hidup menggereja bertumbuh dan melahirkan berbagai bidang pelayanan.”

Pelayanan tersebut, lanjut Uskup, berkembang menjadi karya-karya nyata dalam pendidikan, PSE, dan gerakan-gerakan gerejawi yang menopang pastoral di tingkat paroki maupun keuskupan.

Dalam kesempatan itu, Uskup Murwito juga mengingatkan bahwa perjalanan pastoral Keuskupan Agats tidak lepas dari berbagai keterbatasan. Infrastruktur yang terbatas, medan geografis yang menantang, serta kebutuhan pastoral yang terus meningkat menjadi tantangan setiap tahun.

“Pengeluaran kita setiap tahun sangat besar,” ungkapnya. “Namun kasih Tuhan selalu bersama kita. Tuhan mencurahkan rahmat-Nya melalui tangan-tangan kasih yang mau membantu keuskupan ini: para dermawan, sukarelawan, Panitia Peduli, dan pribadi-pribadi yang dengan setia melihat kebutuhan Gereja.”

Ia menegaskan bahwa rasa syukur harus terus dipelihara karena tanpa penyelenggaraan Tuhan dan kemurahan hati banyak pihak, karya pastoral di Asmat tidak akan mampu berjalan sejauh ini.

Uskup Murwito menegaskan bahwa arah pastoral Keuskupan Agats selalu berangkat dari akar budaya Asmat, khususnya semangat musyawarah yang dilaksanakan di jew bersama para wair.

“Pelayanan pastoral juga membutuhkan musyawarah,” katanya. “Kita belajar dari budaya Asmat bahwa setiap keputusan besar selalu dicapai bersama, dalam semangat mendengar dan menghargai satu sama lain.”

Semangat budaya inilah yang menjadi dasar gerak pastoral Gereja: membangun bersama dan melayani bersama.

Perayaan HUT keuskupan tahun ini bertepatan dengan Hari Orang Muda Sedunia (HOMS). Dalam homilinya, Uskup Murwito mengajak seluruh umat untuk mendukung generasi muda agar semakin berani menjawab panggilan Tuhan.

“Waktu saya ditahbiskan, hanya ada satu imam diosesan. Sekarang sudah 28,” ungkapnya penuh syukur. “Ini tanda bahwa Tuhan terus bekerja di tanah ini. Kita perlu mendukung kaum muda untuk melayani tanah Asmat, bagi Gereja dan bagi masyarakat.”

Mengakhiri homilinya, Uskup Aloysius Murwito mengajak umat untuk terus berdoa agar Keuskupan Agats setia mengemban amanat pastoralnya—melayani dengan kasih, dengan kesabaran, dan dengan ketekunan.

“Kita bersyukur atas apa yang Tuhan bangun di tanah ini,” katanya. “Semoga kita semua terus menjadi saksi kasih-Nya, demi masa depan Gereja dan masyarakat Asmat.”

Leave a Comment