Laporan; RD. Lukas Legasando, Pr
KOMSOS — Dalam semangat mempererat persaudaraan dan kesatuan sebagai imam-imam diosesan se-Regio Papua, Temu Unio Regio (TUR) Papua kembali digelar. Kegiatan tiga tahunan ini menjadi ruang perjumpaan yang hangat bagi para imam diosesan untuk saling berbagi pengalaman, memperdalam refleksi, serta memperkuat identitas dan pelayanan pastoral mereka di tengah perubahan zaman.
Tahun ini, Keuskupan Agung Merauke mendapat kehormatan menjadi tuan rumah pelaksanaan Temu Unio Regio Papua ke-VII, yang dihadiri sekitar 108 imam diosesan dari berbagai keuskupan di Papua. Rinciannya meliputi 25 imam dari Keuskupan Manokwari – Sorong, 22 imam dari Keuskupan Jayapura, 22 imam dari Keuskupan Agats, dan 39 imam dari Keuskupan Agung Merauke.
Namun, dalam pertemuan kali ini, imam-imam diosesan Keuskupan Timika berhalangan hadir karena tengah mengikuti Sinode Keuskupan serta rangkaian Pentahbisan imam baru di wilayah mereka.
Rangkaian kegiatan dibuka dengan Misa Pembukaan yang dipimpin oleh Mgr. Petrus Kanisius Mandagi, MSC, Uskup Agung Merauke, di Gereja Katedral Keuskupan Agung Merauke.
Dalam homilinya yang mengacu pada Injil Lukas 11:37- 41, Mgr. Mandagi mengajak para imam untuk merenungkan kembali tugas dan peran mereka dalam berpastoral di tengah arus globalisasi, yang sekaligus menjadi tema utama pertemuan kali ini.
“Di tengah arus globalisasi ini, para imam hendaknya melayani dari batin dan dari hati yang tulus. Pelayanan harus berakar pada kedekatan dengan Tuhan dan umat Allah,” pesan Mgr. Mandagi.
Uskup Mandagi juga mengingatkan pentingnya hidup sederhana dan mendalamkan relasi pribadi dengan Tuhan. Mengutip pesan Paus Fransiskus dan Paus Leo XIII, Mgr. Mandagi menekankan bahwa imam harus menjadi ‘gembala yang berbau domba’ artinya, Imam perlu hadir di tengah umat, memahami kebutuhan dan pergumulan mereka, serta senantiasa membuka hati dalam doa dan refleksi untuk mendengarkan kehendak Tuhan.
“Cawan jangan hanya dibersihkan bagian luarnya, tetapi juga dalamnya,” tegas Mgr. Mandagi, mengajak para imam untuk membangun kemurnian batin dan kesungguhan dalam pelayanan.
Dalam kesempatan yang sama, RD Maxi Bria, Ketua Unio Indonesia, menegaskan bahwa kedekatan dengan Tuhan dan umat harus berjalan seiring dengan kedekatan para imam terhadap uskup sebagai Ordinaris wilayah diosesan.
“Ibarat ranting yang baik, tidak mungkin hidup terlepas dari pokoknya,” ungkap RD Maxi Bria. Hubungan antara imam dan uskup, katanya, merupakan fondasi utama dalam menjaga kesatuan Gereja dan menumbuhkan pelayanan pastoral yang berdaya guna.
Misa pembukaan yang penuh makna ini diakhiri dengan resepsi bersama umat di Kantor Keuskupan Agung Merauke. Suasana hangat dan penuh keakraban terasa dalam perjumpaan tersebut, menandai semangat persaudaraan di antara para imam dan umat yang hadir.

