KOMSOS – Workshop Pengukir Muda Asmat di Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat, Sabtu (25/10/2025).
Peserta yang datang dari kalangan pelajar SMA dan SMP diajak menyelami kebudayaan Asmat lewat Ketua Umum Lembaga Musyawarah Adat Asmat dan Museum.

Maka di tengah suasana hening Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat, puluhan anak muda tampak larut dalam tayangan film dokumenter tentang konsep kesimbangan hidup orang Asmat. Layar putih di depan mereka memantulkan bayangan kehidupan leluhur tentang relasi manusia, alam, dan roh yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Asmat.
John Ohoiwirin, Direktur Museum sekaligus pemandu sesi ini, mengjak peserta menelusuri makna-makna tersembunyi di balik setiap simbol dan ritual yang ditampilkan.
“Kesimbangan itu inti kehidupan orang Asmat,” ujar John.

Usai tayangan, suasana menjadi lebih hidup. Para peserta yang adalah pelajar diajak menjelajah ruang-ruang museum. Mereka dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing dipandu oleh Rosa Dahlia dan Santi Dicim dua wanita penjaga warisan di museum. Kedua pemandu dengan sabar mengisahkan satu per satu artefak: topeng roh, foto-foto tua, panel cerita, dan ukiran-ukiran yang merekam kisah nenek moyang.
Langkah-langkah peserta bergema di lorong panjang museum. Tatapan mereka terpaku pada setiap detail: guratan kayu yang menyerupai wajah roh, pola anyaman yang memuat pesan tentang asal-usul manusia, hingga pahatan perahu yang menyimbolkan perjalanan leluhur.
“Rasanya seperti menonton tayangan masa lalu yang diputar kembali,” kata seorang peserta dengan mata berbinar.

Ruang-ruang permanen dan temporer museum seolah menjadi jembatan antara masa kini dan masa lampau. Di sana, anak muda Asmat berjumpa kembali dengan leluhur mereka bukan lewat kata-kata, tetapi melalui bentuk, tekstur, dan keheningan yang berbicara.
Setelah berkeliling, peserta kembali ke aula untuk sesi talkshow. Mereka saling berbagi pengalaman dan kesan. Ada yang dengan bangga bercerita bahwa ia menemukan ukiran karya kakeknya. Ada pula yang mengaku seperti diajak berjalan bersama leluhur. “Ukiran-ukiran itu hidup,” ujar seorang pengukir muda dengan nada terharu. “Mereka bicara pada kita.”
Kegiatan ini berubah menjadi ruang refleksi tempat generasi muda Asmat belajar mengenali dirinya sendiri melalui warisan leluhur. Dalam setiap ukiran, mereka menemukan jejak masa lalu, sekaligus arah bagi masa depan.


