Posted on: 21/04/2025 Posted by: Petrus Letsoin Comments: 0

KOMSOS – Dari Stasi Meda, setelah menghabiskan waktu bersama komunitas Katolik di Waganu 2, Uskup melanjutkan perjalanannya menuju Stasi Binam Soator. Medan yang jauh dan tidak mudah ditempuh tak menghalangi semangatnya untuk hadir dan melayani umat. Di Soator, ia dijadwalkan memimpin perayaan malam Vigili Paskah — malam kudus yang penuh makna bagi umat Katolik.

Sesampainya di stasi, sebelum misa dimulai, Uskup tidak langsung masuk sakristi. Ia justru berjalan ke tengah umat, khususnya mendekati anak-anak. Dengan senyum lebar dan nada suara penuh kasih, ia menyapa mereka satu per satu. Beberapa anak tampak malu-malu, tapi tak lama kemudian suasana berubah hangat.

Uskup bertanya, “Siapa yang bisa bernyanyi untuk saya?” Dengan spontan beberapa anak pun mulai bernyanyi lagu gereja, suaranya jernih dan polos — membuat semua yang hadir ikut tersenyum.

Tak hanya itu, para misdinar yang bertugas malam itu juga mendapat perhatian khusus. Uskup tak segan-segan melatih mereka langsung. Ia menunjukkan cara membawa lilin dengan sikap hormat, mengarahkan langkah-langkah prosesi, dan memberi semangat agar mereka menjalankan tugas pelayanan dengan hati.

Sikap Uskup ini begitu membekas di hati umat. Di tengah jabatan tinggi gerejawi yang ia emban, ia tak pernah menempatkan dirinya di atas umat. Ia hadir seperti gembala sejati — rendah hati, dekat dengan umat, dan tulus dalam melayani. Seorang Uskup yang tak menyombongkan diri, justru itulah yang membuat umat makin mencintainya.

Malam itu, Vigili Paskah bukan hanya menjadi perayaan liturgi. Ia menjadi perayaan kasih, kehadiran, dan pelayanan yang hidup.

Leave a Comment