Posted on: 21/04/2025 Posted by: Petrus Letsoin Comments: 0

KOMSOS – Dari Stasi Meda, kami memulai perjalanan menuju kampung kecil bernama Waganu 2. Tak besar, tak ramai, tapi di sanalah sekelompok kecil umat Katolik menanti dengan penuh harap. Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan dari satu titik ke titik lain, tapi sebuah ziarah kasih, ketika gembala datang menyapa domba-dombanya.

Sesampainya di dermaga, sambutan yang mengharukan menyambut kami. Mama-mama sudah berdiri menanti, mengenakan kain tradisional dan melantunkan nyanyian adat yang hangat, penuh sukacita dan hormat. Mereka mengantar kami menuju sebuah bangunan sederhana—pustu yang kini difungsikan sementara sebagai gereja.

Umat di Waganu 2 tak banyak, sekitar tiga puluh orang. Sebagian besar adalah pencari gaharu yang telah menetap di sana, banyak di antara mereka berasal dari wilayah Mappi. Hidup mereka bersahaja, jauh dari gemerlap kota, namun penuh semangat dan keteguhan iman.

Hari itu adalah Sabtu Suci. Dalam kesederhanaan, sebuah perayaan Ekaristi digelar. Tak ada dekorasi mewah atau koor besar, namun suasananya sungguh kudus dan mengharukan. Saat Uskup memimpin Misa, wajah-wajah umat memancarkan kebahagiaan yang tulus—kebahagiaan karena disapa, dilihat, dan didengarkan oleh gembala mereka.

Di balik kesunyian Waganu 2, gema kasih Tuhan menggema kuat lewat perjumpaan ini. Sebuah kunjungan yang sederhana, namun penuh makna. Sebab ketika gembala hadir di tengah kawanan kecilnya, iman yang kecil pun tumbuh menjadi kekuatan besar.

Leave a Comment