KOMSOS — Suasana haru dan bahagia menyatu saat umat menyambut peresmian Gereja Paroki St. Maria Mediatrix Nanai. Pagi itu, Kampung Nanai dan Amaita terasa sejuk. Umat sudah berkumpul sejak awal, menanti momen yang telah lama dinantikan.

Di depan barisan, uskup bersama para pastor berdiri siap memulai prosesi. Para tetua adat hadir dengan balutan ornamen khas Asmat. Sementara umat mulai melangkah perlahan mengikuti arak-arakan menuju gereja.

Suasana berubah ketika bunyi tifa mulai terdengar. Irama khas Asmat mengiringi langkah umat. Kaki dan pinggang mulai bergerak mengikuti alunan musik. Pekikan sukacita pun terdengar, menandai kegembiraan yang tak bisa disembunyikan.

Prosesi berjalan menuju pintu gereja. Di sana, dilakukan pemotongan tali adat (foma) menggunakan kulit bia sebagai tanda dibukanya gereja secara resmi. Setelah itu, uskup membuka pintu gereja untuk pertama kalinya.

Saat pintu dibuka dan umat mulai masuk, suasana langsung pecah. Teriakan bahagia terdengar di dalam gereja. Sejumlah mama-mama tampak bergoyang sambil menangis haru. Momen ini menjadi ungkapan rasa syukur atas penantian panjang hingga akhirnya gereja baru bisa digunakan.

Beberapa umat bahkan tidak mampu berkata-kata. Suara terbata-bata, tangis, dan tawa bercampur menjadi satu. Kebahagiaan terasa nyata di wajah setiap orang yang hadir.
Gereja baru ini menjadi simbol harapan dan perjuangan umat, Pastor, dan dermawan. Setelah prosesi pembukaan, perayaan misa dilanjutkan dengan penuh sukacita.Peresmian ini menjadi momen penting bagi umat di Nanai dan Amaita, sepertu sebuah awal baru dalam kehidupan iman mereka.

