Posted on: 17/05/2025 Posted by: Petrus Letsoin Comments: 0

KOMSOS – Stasi St. Stefanus Kamur, sebuah komunitas Katolik yang hidup di pedalaman Papua Selatan , kembali menjadi tempat berseminya benih-benih cinta dalam terang Kristus. Dalam semangat pelayanan pastoralnya, Pastor Juan Batilmurik, Pastor Paroki Kamur, memimpin kursus persiapan penerimaan Sakramen Perkawinan bagi para calon mempelai. Kursus ini menjadi ruang penting bagi para pasangan untuk menyiapkan diri tidak hanya secara lahiriah, tetapi terlebih secara rohani dan moral, menuju hidup berkeluarga yang suci dan kokoh dalam iman.

Dalam pengantar kursus, Pastor Juan menegaskan bahwa perkawinan Katolik bersifat *monogam dan tak terceraikan. “Mono berarti satu dan tidak bisa dipisahkan. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia,” katanya, mengutip ajaran Gereja. Perkawinan bukanlah kontrak sosial yang bisa dibatalkan sesuka hati, melainkan perjanjian sakramental yang kudus dan abadi.

Lebih jauh, Pastor Juan menyampaikan bahwa setiap pasangan yang hendak menikah wajib memahami secara benar lima butir pokok yang menjadi dasar pengetahuan minimal untuk penerimaan Sakramen Perkawinan. Ketidaktahuan atau kekeliruan dalam memahami butir-butir ini bisa menyebabkan perkawinan dianggap batal secara kanonik.

Kelima butir tersebut adalah:

  1. Perkawinan sebagai persekutuan hidup suami istri.
    Suami dan istri adalah mitra sejati, yang saling memberi dan menerima diri secara total. Dalam persekutuan ini, mereka berbagi suka dan duka sebagai rekan sejati dalam kehidupan.
  2. Perkawinan bersifat tetap dan stabil.
    Relasi ini bukan sekadar ikatan sementara, melainkan perjanjian hidup yang permanen, meskipun tidak semua pasangan memahami dengan tepat konsep indissolubilitas (tak terceraikan).
  3. Perkawinan antara laki-laki dan perempuan.
    Ini menegaskan prinsip dualitas seksual dan saling melengkapi antara pria dan wanita, sebagaimana telah ditetapkan dalam kodrat manusia.
  4. Perkawinan diarahkan kepada kelahiran anak.
    Tujuan utama perkawinan Katolik bukan hanya kebersamaan, tetapi juga keterbukaan terhadap kehidupan melalui kelahiran dan pendidikan anak-anak.
  5. Prokreasi terjadi melalui kerja sama seksual.
    Kerja sama ini bukan sekadar aktivitas biologis, tetapi bagian dari rencana kasih Allah yang mengarahkan pasangan menuju kesuburan dan penerusan kehidupan.

Pastor Juan menjelaskan bahwa lima butir tersebut mengacu pada dua dimensi hakiki dalam perkawinan: *dimensi personalistik, yakni persekutuan hidup antara pria dan wanita secara permanen, dan *dimensi prokreatif, yakni keterbukaan terhadap anak melalui kerja sama seksual.

Di akhir sesi, Pastor Juan membagikan wejangan pastoral yang mengajak para calon suami istri untuk merenungkan panggilan mereka sebagai Gereja mini dalam rumah tangga. “Keluarga adalah Ecclesia Domestika, Gereja kecil tempat cinta Allah pertama kali dialami dan diwartakan,” ujarnya.

Ia mengutip pesan almarhum Paus Fransiskus yang menekankan pentingnya komunikasi dan kasih dalam kehidupan rumah tangga:
“Walau sangat sibuk, sediakanlah waktu untuk pasanganmu. Dengarkan satu sama lain, saling terbuka, dan saling menerima kekurangan. Ucapkan selalu tiga kata ajaib ini: Tolong, Maaf, dan Terima Kasih.”

Pastor Juan juga mengingatkan bahwa cinta dalam keluarga memerlukan perjuangan dan pengorbanan. Ia mengibaratkan suami istri sebagai dua unsur yang saling menyeimbangkan: “Ketika yang satu menjadi api, biarlah yang satu menjadi air.” Keluarga bukanlah tempat kesempurnaan, tetapi ladang pertumbuhan dalam iman, harapan, dan kasih.

Akhirnya, ia menutup dengan harapan agar para pasangan senantiasa menjaga relasi cinta mereka dengan kesetiaan, kejujuran, keikhlasan, dan kasih sayang. “Jika ada yang salah, hendaklah diperbaiki, bukan dihakimi. Jika ada yang kurang, hendaklah kalian saling melengkapi, bukan dieksploitasi. Jika ada yang sakit, hendaklah sakitnya diobati, bukan dihindari. Semoga kalian selalu hidup dalam kebahagiaan bersama Kristus.”

Dengan pembekalan yang mendalam dan penuh kasih ini, para calon mempelai di Stasi Kamur dibimbing untuk memasuki Sakramen Perkawinan dengan hati yang siap dan iman yang teguh — membangun keluarga Katolik yang tangguh di tengah tantangan zaman.

Leave a Comment