Laporan : Robert Piran
Editor : Petter Says
KOMSOS — Dalam semangat membangkitkan panggilan hidup religius di kalangan umat, Ketua Komisi Kateketik (Komkat) Keuskupan Agats, Sr. M. Dorothea, FSGM, menyampaikan ajakan tulus kepada para orang tua untuk menyekolahkan anak-anak mereka agar kelak bisa menjadi pastor dan suster. Ajakan ini disampaikan suster dalam kunjungan pastoral bersama tim Komkat ke Paroki Santo Martinus De Porres, Ayam Akat, pada Minggu, 4 Mei 2025.
Momen tersebut terjadi saat suster diberi kesempatan untuk memperkenalkan diri di hadapan umat, termasuk pastor paroki dan tim Komkat. Dengan gaya yang hangat dan sedikit penuh canda, Sr. Dorothea mengenalkan asal-usul dirinya yang unik. “Asal saya, dengarkan baik-baik, soalnya ini nanti kasih ujian,” ujarnya sambil tersenyum. “Bapak saya orang Batak dan mama saya orang Jawa, sehingga muka saya campuran. Bapak Batak, mama Jawa, anaknya itu dari Bajawa. Batak dan Jawa lahirlah Bajawa, sehingga saya itu orang Bajawa. Ini asli orang Bajawa, tidak ada campuran.”

Dalam perkenalannya, Sr. Dorothea juga menyinggung latar belakang tanah kelahirannya di Bajawa, Nusa Tenggara Timur, yang dikenal sebagai tempat asal banyak pastor dan suster. Ia menegaskan harapannya agar tanah Asmat pun suatu saat dapat dikenal sebagai tempat yang juga melahirkan banyak panggilan religius.
“Bajawa itu sebuah kota kecil, kota yang indah, asri, daerah pegunungan, yang telah melahirkan produk-produk yang banyak menjadi pastor dan suster,” jelasnya. “Ketika suster sampai di Asmat sini, maka harapannya orang Asmat juga bisa jadi pastor dan bisa jadi suster. Tapi untuk itu, anak-anak harus sekolah. Kalau tidak sekolah, tidak bisa jadi pastor dan suster.”
Ajakan Sr. Dorothea disampaikan dengan tegas dan berulang dalam suasana penuh keakraban. Ia menyapa umat secara langsung, mengajak berdialog, dan menegaskan bahwa panggilan menjadi pelayan Tuhan perlu didukung sejak dini, terutama dari keluarga. “Bapak dan mama, mau serahkan anak untuk Tuhan atau tidak?” tanyanya dengan semangat. Pertanyaan ini diulang beberapa kali dan selalu dijawab dengan penuh antusias oleh umat, “Mau!”
Melanjutkan dialog tersebut, Sr. Dorothea menyampaikan harapannya secara lebih konkret. “Kalau begitu, suster tunggu. Kirimkan salah satu, salah dua, salah tiga untuk jadi pastor. Itu untuk yang putra. Untuk yang putri, kirimlah salah satu, salah dua, salah tiga untuk jadi suster. Bapak-mama, mau atau tidak?” Sekali lagi, jawaban umat menggema serentak, “Mau!”
Kunjungan Sr. Dorothea dan tim Komkat ini menjadi tanda kehadiran Gereja yang menginspirasi serta menyalakan semangat baru di tengah umat. Ajakan tersebut bukan hanya sekadar wacana, tetapi menjadi bentuk nyata kepedulian Gereja terhadap masa depan panggilan hidup membiara di Keuskupan Agats, khususnya di wilayah pedalaman seperti Ayam Akat.
Dengan penuh harapan dan keyakinan, Sr. Dorothea menutup ajakannya bahwa panggilan untuk menjadi pastor dan suster adalah tugas mulia, yang harus ditanamkan sejak dini dalam keluarga dan komunitas. “Suster tunggu,” katanya menegaskan kembali, bahwa proses panggilan harus dimulai dari keputusan berani orang tua untuk menyekolahkan anak-anak mereka.

