KOMSOS — Sabtu (10/01/2026). Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Agats, RD. Innocentius Rettobjaan, membawakan homili yang sarat makna dalam Perayaan Oikumen Natal Bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Asmat, TNI, Polri, serta masyarakat. Kegiatan ini berlangsung khidmat di Aula Wiyata Mandala, Agats.

Perayaan Natal bersama ini menjadi ruang perjumpaan lintas denominasi dan institusi, sekaligus momentum mempererat persaudaraan, kebersamaan, dan semangat pelayanan bagi masyarakat Asmat di awal tahun 2026.
Dalam refleksinya, Pastor Innocentius yang akrab disapa Pastor Inno menyampaikan bahwa sesungguhnya seluruh kisah Natal telah padat dengan pesan dan makna mendalam. Namun demikian, ia mengajak umat untuk merenungkan dua pesan utama dari peristiwa kelahiran Yesus Kristus.Pesan pertama berkaitan dengan kisah kelahiran Yesus.
Pastor Inno mengingatkan bahwa Maria dan Yusuf tidak dengan mudah menemukan tempat untuk melahirkan Sang Juru Selamat. Semua rumah dan penginapan penuh, hingga akhirnya mereka harus menuju kandang hewan karena saat kelahiran telah tiba.“Namun Tuhan Allah mempunyai rencana keselamatan bagi kita semua. Rencana Allah sering kali tidak mudah dimengerti oleh manusia,” ungkapnya.

Menurut Pastor Inno, misi keselamatan Yesus tidak pernah hilang hanya karena Ia lahir di tempat yang hina. Justru dari kandang yang sederhana itulah rahmat Allah diwartakan bagi seluruh umat manusia.
“Kita tahu, Yesus lahir di kandang dan wafat di salib. Lahir tidak terpandang, tetapi dari situlah nikmat Allah diwartakan bagi kita semua. Apa yang hina di mata manusia, justru bernilai di mata Allah,” tegasnya.

Ia menambahkan, melalui peristiwa Natal, Tuhan mengajarkan manusia untuk mengosongkan diri, melepaskan berbagai “tameng” duniawi, dan menemukan Allah dengan kerendahan hati, bukan semata-mata dengan cara-cara manusia.
Keteladanan Yusuf: Taat, Setia, dan Mendengar Suara Tuhan
Pesan kedua yang disampaikan Pastor Inno adalah tentang keteladanan Santo Yusuf. Dari kisah Natal, Yusuf digambarkan sebagai pribadi yang taat dan setia kepada kehendak Tuhan, meskipun dihadapkan pada situasi yang penuh risiko dan ketidakpastian.“Yusuf memberi inspirasi bagaimana bersikap tulus dan setia. Ia mau mengambil Maria sebagai istrinya karena ketaatannya kepada Tuhan,” ujarnya.

Menurut Pastor Inno, keteladanan Yusuf menjadi pesan penting bagi semua pihak, khususnya ketika menghadapi badai kehidupan. Dalam situasi sulit, umat diajak untuk belajar mendengarkan suara Tuhan dan tetap berjalan dalam iman.
Menutup refleksinya, Pastor Inno menyampaikan harapan agar semangat Natal terus hidup dalam pelayanan nyata sepanjang tahun 2026. Ia mengajak seluruh unsur pemerintah, TNI, Polri, dan masyarakat untuk terus memberikan pelayanan yang maksimal.“Semoga di tahun 2026 ini, kita semua terus melakukan pelayanan terbaik, pelayanan yang memastikan masyarakat sungguh terlayani dengan baik,” pungkasnya.

Perayaan Oikumen Natal Bersama ini tidak hanya menjadi simbol persatuan iman, tetapi juga peneguhan komitmen bersama untuk membangun Kabupaten Asmat dengan semangat kasih, kerendahan hati, dan pengabdian bagi sesama.

