KOMSOS – Komisi Karya Misi Kepausan Indonesia (KMKI) Keuskupan Agats menggelar pelatihan menjadi pembina Sekami bagi para seminaris masa persiapan (Maper). Sabtu, (28/02/2026).

Kegiatan ini bertujuan membekali para calon pelayan Gereja dengan keterampilan dasar dalam mendampingi anak-anak Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner (Sekami).
Ketua KMKI Keuskupan Agats, Suster Stanisla, FSGM, mengatakan bahwa para Maper diperkenalkan pada dasar-dasar pembinaan Sekami agar mampu menjalankan tugas pelayanan dengan baik dan penuh tanggung jawab.

“Para Maper diperkenalkan bagaimana menjadi pembina Sekami, sehingga mereka tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mempraktikkannya dalam pelayanan nyata di tengah anak-anak,” ujarnya.
Dalam pelatihan tersebut, para peserta menerima sejumlah materi penting, antara lain: Penjelasan singkat tentang Sekami dan semangat misioner anak. Pola ibadat mingguan Sekami. Cara membawakan renungan yang sederhana dan mudah dipahami anak-anak. Teknik bercerita yang menarik dan komunikatif. Game edukasi Kitab Suci sebagai sarana pembelajaran iman yang menyenangkan.

Materi-materi tersebut dibawakan secara interaktif oleh tim KMKI yang terdiri dari Narita, Robert, Dewi, Sindi, dan Manda. Para peserta juga diajak untuk praktik langsung membawakan renungan dan simulasi kegiatan Sekami.

Di akhir sesi, Sr. Stanisla menyampaikan dua pesan penting kepada para Maper.Pesan pertama, ia mengingatkan agar para calon pembina tidak ragu untuk mencari tahu apabila menemukan istilah atau materi yang belum dipahami.

“Ketika ada istilah-istilah yang tidak paham, silakan searching daripada salah dijelaskan. Anak-anak ini masih polos, jadi apa yang dijelaskan dan apa yang mereka terima, itulah yang akan membekas,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa kelak para Maper akan menjadi frater maupun pastor yang dipercaya umat. Karena itu, fondasi pembinaan sejak dini harus dibangun dengan benar dan penuh tanggung jawab.
Pesan kedua, Sr. Stanisla menekankan pentingnya pendekatan yang bijaksana dalam mendidik anak.“Kalau ada anak yang susah sekali dibina, jangan kemudian main tangan atau memukul,” pesannya.

Ia berharap ilmu yang diperoleh dari pelatihan tersebut benar-benar dipraktikkan dalam pelayanan. Para pembina Sekami juga diingatkan untuk tetap rendah hati dan tidak merasa paling tahu.
“Kalau sudah menjadi pembina Sekami, jangan merasa tahu semuanya. Harus rendah hati dan terus belajar,” tutupnya.

Pelatihan ini menjadi bagian dari komitmen KMKI Keuskupan Agats dalam menyiapkan generasi pelayan Gereja yang tidak hanya cakap secara pastoral, tetapi juga memiliki hati misioner dan kepekaan dalam mendampingi anak-anak sebagai generasi penerus Gereja.

