KOMSOS – Temu Lima Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Regio Papua digelar di Aula Keuskupan Agats, Rabu (25/02/2026).
Pertemuan ini menjadi ruang refleksi sekaligus konsolidasi karya-karya pemberdayaan sosial ekonomi Gereja di Tanah Papua, dengan menempatkan konteks lokal sebagai pijakan utama pelayanan.

Temu PSE Regio Papua diantatanya; Keuskupan Agung Merauke, Keuskupan Jayapura, Keuskupan Manokwari-Sorong, Keuskupan Timika dan Keuskupan Agats-Asmat.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Ketua PSE Keuskupan Agats, Aji Sayekti, yang dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh peserta sekaligus memaparkan gambaran umum kondisi geografis dan kehidupan umat di Asmat.

“Saya menyampaikan selamat datang rekan-rekan semua. Inilah Keuskupan Agats,” ujar Aji membuka sambutannya.
Dalam pemaparannya, Aji menegaskan bahwa Kabupaten Asmat memiliki karakter geografis yang unik sekaligus menantang. Wilayah ini didominasi oleh rawa-rawa, sungai, serta pengaruh pasang surut air laut. Mobilitas masyarakat lebih banyak mengandalkan transportasi air dibandingkan jalur darat.

Selain itu, pola hidup masyarakat Asmat yang secara tradisional dikenal sebagai peramu masih sangat bergantung pada alam. Hutan, sungai, dan laut menjadi sumber utama pemenuhan kebutuhan hidup.
Kondisi tersebut, menurut Aji, menuntut pendekatan pemberdayaan yang kontekstual dan tidak bisa disamakan dengan wilayah daratan lain di Indonesia.
“Dengan kondisi geografis demikian, pelan-pelan kita memperkenalkan pola pemberdayaan baru bagi masyarakat,” jelasnya.

Ia menambahkan, kekayaan sumber daya alam Asmat sebenarnya sangat besar. Namun tanpa skema pendampingan yang tepat, potensi tersebut belum sepenuhnya mampu meningkatkan kesejahteraan umat secara berkelanjutan.
Selama ini, pendekatan sosial ekonomi di wilayah Keuskupan Agats masih didominasi pola pembinaan lama, yakni berupa himbauan dan ajakan kepada umat untuk membangun kemandirian ekonomi. Namun, seiring dinamika pastoral dan hasil Musyawarah Pastoral (Muspas), mulai dirancang pendekatan yang lebih sistematis.

Aji mengakui bahwa sejak berdirinya Keuskupan Agats, bahkan ketika ia mulai menjabat sebagai Ketua PSE, gerakan pemberdayaan masih bersifat ajakan moral.
“Sejak Keuskupan ini berdiri dan bahkan saya menjadi Ketua PSE, kami masih bersifat himbauan, ajakan umat untuk melakukan pemberdayaan ekonomi,” ungkapnya.
Namun kini, PSE Keuskupan Agats mulai merintis skema yang lebih konkret, yakni membangun kebun percontohan sebagai pusat pelatihan pertanian dan budidaya.
Kebun tersebut dirancang menjadi tempat belajar praktik bagi umat sebelum kembali ke kampung masing-masing.Langkah awal yang telah dilakukan adalah memperkenalkan tanaman sumber karbohidrat di pinggir kampung, sebagai bentuk adaptasi dengan kondisi lahan dan budaya setempat.
“Hari ini yang bisa kami lakukan adalah mendekatkan tanaman karbohidrat di pinggir kampung,” jelasnya.
Program ini menjadi bagian dari strategi perlahan mengubah pola konsumsi dan produksi masyarakat, tanpa memutus akar budaya mereka.Hal menarik dalam pendekatan PSE Keuskupan Agats adalah integrasi antara pelatihan ekonomi dan pembinaan iman.

Dalam setiap pelatihan dan pendampingan, disisipkan model katekese.Tujuannya bukan hanya membekali umat dengan keterampilan pertanian dan budidaya, tetapi juga membangun kesadaran iman dan tanggung jawab pelayanan.
Dengan demikian, peserta yang telah mengikuti pelatihan diharapkan kembali ke stasi atau paroki masing-masing dan membantu pastor setempat dalam karya pastoral, sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi umat.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa pemberdayaan ekonomi tidak dipisahkan dari misi Gereja, melainkan menjadi bagian integral dari pelayanan iman yang menyentuh kebutuhan konkret umat.
Dalam rencana ke depan, Keuskupan Agats akan menggelar Musyawarah Pastoral (Muspas) yang salah satu arahnya kemungkinan besar akan menitikberatkan pada isu kedaulatan pangan.Gagasan ini dinilai relevan dengan kondisi Asmat yang selama ini masih bergantung pada pasokan bahan makanan dari luar daerah, dengan biaya transportasi yang tinggi akibat kondisi geografis.
Temu Lima PSE Regio Papua ini diharapkan menjadi momentum refleksi bersama antar-keuskupan di Tanah Papua untuk saling berbagi pengalaman dan merumuskan model pemberdayaan sosial ekonomi yang kontekstual, berkelanjutan, dan berakar pada realitas umat.

Di tengah tantangan alam, keterisolasian wilayah, serta perubahan sosial yang terus berlangsung, Gereja melalui PSE berupaya hadir bukan hanya sebagai pewarta iman, tetapi juga sebagai pendamping hidup umat dalam membangun kemandirian dan martabat ekonomi mereka.

