Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Salam Paskah! Dalam terang kemenangan Kristus atas dosa dan maut, kita sekali lagi diteguhkan akan harapan hidup baru yang dianugerahkan oleh Allah. Kristus bangkit! Ia sungguh bangkit!
Paskah adalah perayaan kehidupan – kehidupan yang ditebus, dipulihkan, dan dibarui. Namun, saat kita merayakan kebangkitan ini, kita juga diingatkan akan dunia ciptaan yang terus menjerit karena luka-luka ekologis yang ditimbulkan oleh tangan manusia. Bumi, rumah bersama kita, mengalami penderitaan yang tak bisa kita abaikan: perubahan iklim, pencemaran, hilangnya keanekaragaman hayati, dan eksploitasi sumber daya alam yang tidak berkelanjutan.
Sebagai umat yang percaya kepada Kristus yang bangkit, kita dipanggil untuk membarui hubungan kita, bukan hanya dengan sesama, tetapi juga dengan ciptaan.
Santo Fransiskus dari Assisi mengajarkan kita untuk melihat seluruh alam semesta sebagai saudara dan saudari. Ia tidak memandang ciptaan sebagai benda mati untuk dieksploitasi, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar ciptaan yang memuliakan Tuhan. Pandangan ini bukan sekadar puitis, tetapi mendalam secara teologis — karena alam semesta berasal dari dan menuju Allah.
Saudara terkasih, hari ini, kita membutuhkan pertobatan ekologis. Sebuah pertobatan yang berakar dari pengakuan bahwa kita telah gagal menjaga rumah bersama ini, bahwa kita telah bersikap seperti pemilik, bukan penjaga ciptaan Allah. Pertobatan ekologis berarti:
• Melihat alam dengan mata kasih, seperti Santo Fransiskus;
• Bertobat dari gaya hidup konsumtif dan tidak berkelanjutan;
• Menghidupi semangat Paskah dengan membangkitkan harapan bagi dunia yang terluka.
Paskah bukan hanya tentang kebangkitan pribadi, tetapi juga tentang kebangkitan komunitas dan seluruh ciptaan. Kristus bangkit untuk memperbarui seluruh alam semesta. Maka, sebagai umat yang percaya kepada-Nya, marilah kita menjadi tanda kehidupan baru itu — dalam tindakan kecil dan besar yang memuliakan Sang Pencipta dan menghormati ciptaan-Nya.
Paskah mengajarkan kita bahwa tidak ada luka yang tidak bisa dipulihkan oleh kasih Allah. Maka mari kita jadikan Paskah tahun ini sebagai titik balik: dari ketidakpedulian menuju kepekaan, dari eksploitasi menuju tanggung jawab, dari sikap “tuan atas ciptaan” menuju sikap sebagai “penjaga ciptaan”.
Kebangkitan Kristus bukan sekadar peristiwa masa lalu, tetapi kekuatan yang terus mengalir, yang mampu membangkitkan hidup, termasuk hidup dunia kita yang sedang terluka. Biarlah terang kebangkitan ini menuntun kita dalam membangun dunia yang lebih adil, berkelanjutan, dan ramah terhadap generasi yang akan datang.
Selamat Paskah. Kristus bangkit, mari kita bangkit bersama-Nya — juga dalam menjaga dan mencintai ciptaan-Nya.

