Posted on: 19/04/2025 Posted by: Petrus Letsoin Comments: 0

KOMSOS – Siang itu, setelah perayaan Ekaristi Sabtu Suci selesai dan umat mulai membubarkan diri, seorang pria berjalan perlahan mendekati Uskup Agats. Wajahnya penuh keteduhan, matanya jernih memancarkan ketulusan. Ia adalah Timotheus Ukus, Kepala Kampung Waganu 2.

Dengan suara yang lembut namun mantap, Timotheus membuka percakapan. “Bapa Uskup, kami sudah serahkan sebidang tanah di kampung. Untuk rumah Tuhan. Administrasinya sudah siap.”

Uskup mendengarkan dengan penuh perhatian. Lalu bertanya pelan, “Untuk gereja Katolik?”

Timotheus mengangguk. “Iya. Biar umat bisa berdoa di tempat yang layak. Itu rumah Tuhan. Jadi harus dibantu.”

Yang membuat kata-kata itu begitu menyentuh adalah kenyataan bahwa Timotheus bukan bagian dari Gereja Katolik. Ia seorang Protestan. Namun hari itu, ia datang bukan sebagai seorang pemimpin agama lain, melainkan sebagai seorang saudara seiman—yang hatinya digerakkan oleh cinta kepada Tuhan yang satu.

Tak ada perdebatan, tak ada perbedaan. Hanya kasih yang murni. Kasih yang melahirkan kepedulian. Kasih yang menyatukan umat manusia dalam karya Allah.

Di tengah sunyinya sore Papua, dua orang—seorang uskup dan seorang kepala kampung—duduk berdampingan. Tak banyak kata yang diucapkan lagi. Sebab di antara mereka telah mengalir sesuatu yang jauh lebih dalam: persekutuan sejati.

Sebidang tanah itu kini bukan sekadar lahan kosong. Ia menjadi lambang harapan, kesatuan, dan cinta yang melampaui batas-batas denominasi. Rumah Tuhan akan berdiri di atasnya, karena seorang Protestan percaya bahwa Tuhan harus punya tempat di tengah umat-Nya.

Perjumpaan itu menjadi tanda bahwa di tanah Papua Selatan, semangat ekumenis hidup dalam keseharian. Ketika seorang Protestan menyerahkan tanah demi berdirinya gereja Katolik, itu bukan sekadar urusan lahan—itu adalah kesaksian iman, persaudaraan, dan cinta yang tak berbatas.

Leave a Comment