KOMSOS – Vitalis Wendelinus Ama Leton adalah contoh nyata dari generasi muda Katolik yang menjawab panggilan hidup bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan konkret. Lahir dan dibesarkan di Larantuka, daerah yang kaya akan tradisi iman Katolik, ia membawa warisan rohani itu ke tempat tugasnya di pedalaman Papua Selatan, Keuaukapan Agats: Waganu 2.
Datang sebagai tenaga kesehatan, Vitalis melihat lebih dari sekadar luka dan penyakit fisik. Ia menyadari bahwa warga juga haus akan pelayanan rohani. Maka di luar jam kerjanya sebagai perawat, ia menjadi pemimpin ibadah di rumah-rumah umat Katolik. Suaranya mengajak umat berdoa, langkahnya mengetuk hati banyak orang.
Namun, keterbatasan fasilitas ibadah menjadi keresahan dalam hatinya. Tidak adanya gereja membuat umat Katolik berdoa berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah lain. Vitalis pun bermimpi membangun sebuah gereja kecil, sederhana namun menjadi pusat perjumpaan umat dengan Tuhan.
Jalan Tidak Mudah, Tapi Tuhan Bekerja Lewat Hati yang Tulus.
Dengan keberanian dan kelembutan, Vitalis menjalin hubungan dengan kepala kampung dan warga sekitar — yang sebagian besar bukan Katolik. Ia hadir bukan sebagai tokoh agama, tapi sebagai saudara yang tulus melayani. Pelan-pelan, cintanya kepada masyarakat dan kerja nyatanya sebagai pelayan kesehatan membuat hatinya dikenal dan diterima.
Hingga akhirnya, sebuah momen haru pun terjadi: kepala kampung dan warga Protestan menghibahkan sebidang tanah untuk pembangunan gereja Katolik. Sebuah bukti bahwa ketulusan dan cinta kasih dapat melampaui batas agama.
Muda, Tangguh, dan Penuh Iman
Vitalis bukan imam, bukan juga Frater atau bruder. Ia hanyalah seorang anak muda dengan hati besar dan semangat misioner. Ia hadir sebagai wajah Gereja di tempat di mana kehadiran Gereja belum tampak. Dalam dirinya, misi Kristus untuk menyembuhkan dan mengasihi benar-benar hidup.
Bagi banyak orang, ia adalah inspirasi: bahwa siapa pun, di mana pun, bisa menjadi alat kasih Tuhan. Bahwa pelayanan tidak menunggu waktu atau gelar, tapi dimulai dari keberanian untuk memberi diri.
“Saya hanya ingin membuat umat merasa bahwa Tuhan itu dekat. Kadang, cukup dengan satu kunjungan, satu doa bersama, atau satu senyuman saat luka mereka dibalut.”


Salut Ryan… mengalami energinya menyatu dan bersama umat merayakan iman dalam ibadah dan visitasi ke umat di stasi lain menjadi inpirasi bagi saya. Dalam kesederhanaan dan keterbatasan banyak akses, Ryan tampak enjoy menikmati hidup di tempat terpencil: Waganu 2