KOMSOS – Jumat Agung di Stasi Meda menjadi saksi bisu langkah-langkah iman yang menyatu dalam doa dan penderitaan. Sejak pagi, umat mulai berkumpul di sebuah halaman kecil ujung kampung, siap mengikuti Jalan Salib yang mengelilingi stasi—menyusuri lorong-lorong kampung, kebun-kebun kecil, dan tanah pasir yang sudah diatur menjadi perhentian-perhentian suci.

Dari antara barisan umat, tampak seorang anak muda berdiri tegak, tubuhnya dibalut kain putih sederhana. Di kepalanya melingkar mahkota, bukan dari emas, tapi dari tali hutan yang dianyam oleh tangan-tangan kasih. Wajahnya teduh, matanya tajam namun lembut. Dialah yang hari itu melakoni peran Yesus.
Salib besar dari batang kayu kampung diletakkan di pundaknya. Ia memikulnya tanpa ragu. Keringat mulai menetes, namun semangatnya menyala. Bukan semangat pertunjukan, tapi semangat penghayatan. Langkahnya kuat, setiap gerak mengajak umat masuk dalam misteri kasih yang paling dalam. Dalam dirinya, Kristus seolah hidup kembali di tanah Meda.

Di antara umat, tampak sosok yang tak asing: Mgr. Aloysius Murwito, OFM, Uskup Keuskupan Agats, hadir, berjalan perlahan menyapa dengan senyum kecil dan berkat yang terucap dari mata yang teduh. Uskup hadir dan ikut menyusuri setiap langkah Jalan Salib hingga perhentian ke-14. Meski langkahnya pelan dan tampak menahan rasa lelah, Uskup tetap berjalan dengan khusyuk. Dalam diam dan meditasi, wajahnya menampakkan kedalaman rohani yang penuh penghayatan. Tak ada kata mengeluh, hanya ada semangat untuk ikut menderita bersama Kristus.
Ketua Dewan Gereja Stasi Meda, memimpin perhentian-perhentian itu. Dengan suara lantang namun penuh rasa, sedangkan salah satu dewan mengangkat lagu-lagu sengsara. Umat pun menyahut, suara mereka mengalun lelah namun tulus, seperti menyatu dengan luka dan cinta Salib itu sendiri.

Terik siang begitu menyengat. Matahari memancarkan panasnya tanpa belas kasihan, seakan ingin menguji iman siapa pun yang berjalan di bawahnya. Tapi Jumat Agung memang bukan hari kenyamanan, melainkan hari pengorbanan. Tak sedikit umat yang kelelahan, namun mereka tetap berjalan, tetap berdoa, tetap bernyanyi. Beberapa warga yang tengah sakit bahkan memaksa ikut, ingin merasakan misteri penderitaan Kristus dalam tubuh mereka sendiri. Ada yang akhirnya roboh, tak kuat menahan—pingsan di tengah jalan. Tapi wajah mereka tetap menunjukkan ketulusan, seolah berkata: “Kami mau ikut memikul salib-Mu, Tuhan.”
Anak-anak ikut berjalan, diam dan menatap, belajar tentang cinta yang tak menuntut balasan. Ibu-ibu membawa bayi dalam gendongan, mengayun langkah bersama irama doa.
Ketika sampai di perhentian ke-14—Yesus dimakamkan—suasana menjadi sangat hening. Tak ada suara lain selain desir angin dan isak pelan. Mgr. Aloysius menunduk lama. Tangannya terkatup. Doa yang tak terucap seakan mengalir dari tubuhnya. Hari itu, Jalan Salib tidak hanya selesai. Ia menjadi bagian dari hidup.
Jumat Agung di Meda adalah puisi penderitaan yang dijalani bersama. Bukan hanya mengenang, tapi menghidupi. Bukan hanya menyaksikan, tapi ikut serta. Di bawah langit yang panas dan bumi yang retak oleh langkah, cinta Tuhan ditegaskan kembali—melalui nyanyian, peluh, air mata, dan langkah-langkah setia.
Jalan Salib di Stasi Meda bukan hanya sebuah ritual. Ia adalah kesaksian. Tentang cinta yang tetap berjalan meski tubuh letih. Tentang pengharapan yang tetap bernyanyi meski panas membakar. Dan tentang seorang Uskup, yang memilih berjalan bersama kawanan kecilnya dalam derita dan doa.
Hari itu, Jumat Agung, Meda tak hanya mengenang sengsara Kristus. Ia menghidupinya—dalam langkah-langkah sederhana, dalam peluh, dalam lagu, dan dalam cinta yang tetap setia sampai akhir.

