KOMSOS – Malam itu, di Stasi Meda yang jauh di pedalaman Papua Selatan, cahaya lilin menari di dinding-dinding gereja sederhana. Umat berkumpul dalam keheningan penuh hormat. Kamis Putih bukan sekadar perayaan; ini adalah malam mengenang Gembala yang mencuci kaki murid dalam pelayanan.
Namun malam itu berbeda. Umat berbisik-bisik dalam heran dan haru saat seorang pria tua berjubah putih turun dari altar. Langkahnya lambat, terpincang. Tubuhnya renta, wajahnya penuh keriput, tapi matanya bersinar—mata seorang gembala sejati.
Dialah yang mulia, Uskup Agats, Mgr. Aloysius Murwito, OFM yang sejak lama telah dikenal di seluruh Keuskupan sebagai sosok bijak, penuh kasih, dan sederhana. Bertahun-tahun dia memimpin dari pusat keuskupan, menghadiri sinode para Uskup, menerima kunjungan para pemimpin Negara, menjadi wajah Gereja di Papua Selatan. Namun malam itu, ia meninggalkan semua simbol kebesaran itu—tongkat uskup, dan mitra.
Dengan bantuan dewan gereja, sang Uskup perlahan ke deretan kursi umat. Di hadapannya, dua belas umat dari berbagai latar belakang telah duduk: seorang mama tua penenun noken, anak muda pengangkut kayu, seorang bapak yang baru kembali dari hutan. Mereka semua terdiam, tak percaya.
Uskup memandangi kaki-kaki yang letih, pecah-pecah oleh tanah pasir dan jalan setapak penuh rawa. Dengan tangan gemetar namun penuh kasih, ia menuangkan air ke baskom dan mulai membasuh.
Air menetes bersama air mata.
Beberapa umat mulai terisak. “Mengapa uskup yang sudah tua begini harus mencuci kaki kami?” bisik salah satu dari mereka.
Pelayanan itu bukan lagi sekadar simbol. Di malam Kamis Putih itu, umat Stasi Meda melihat Injil hidup di depan mata mereka. Uskup Agats tak sekadar memberi khotbah; ia mewujudkan cinta dalam tindakan, meski tubuhnya nyaris tak mampu.
Sudahkan kita menjadi pelayanan yang baik? Semoga.

