Posted on: 01/06/2025 Posted by: Petrus Letsoin Comments: 0

KOMSOS — Di tengah semangat umat yang membara, sebuah perayaan penting dalam Gereja Katolik kembali digelar: Sakramen Krisma. Sakramen yang menandai kedewasaan iman ini, menurut Longinus Patnap, pernah terjadi di Paroki Komor sejak kurang lebih 45 tahun silam. Namun, seperti tradisi panjang lainnya, kisah-kisah yang mengiringinya tidak selalu mudah.

Longinus atau akrab disapa Longgi, menyampaikan bahwa dulu pernah beredar cerita bahwa setelah krisma, banyak orang meninggal. “Namun sebenarnya, bisa saja itu terjadi karena adanya wabah atau penyakit. Bukan karena krisma,” ungkapnya. Cerita tersebut menyisakan trauma bagi sebagian umat, tetapi Longgi menegaskan bahwa krisma sendiri adalah rahmat, bukan kutuk.

Di masa lalu, pelaksanaan krisma di wilayah ini menyatu dengan tradisi lokal yang sangat kuat. Para krismawan Krismawati diberi dua nama: satu sebagai nama baptis, dan satu lagi (kon), nama adat (luluhur yang sudah meninggal) yang disimbolkan dengan pemasangan gelang roh. Dalam upacara tersebut, Bapa Uskup memberikan minyak krisma secara liturgis, sementara para saksi krisma memasangkan gelang sebagai simbol penyertaan roh dan penguatan jiwa dalam konteks budaya lokal.

Namun dalam krisma kali ini, beberapa elemen tradisi tersebut ditiadakan. Longgi menjelaskan, “Model sebelumnya sebenarnya hendak digunakan lagi. Tapi karena pertimbangan cerita masa lalu tadi, maka pemasangan gelang tidak dilakukan. Bukan karena tradisinya salah, tapi karena kita menghargai ketakutan dan kehati-hatian umat.”

Meski begitu, antusiasme umat tidak surut. Ratusan umat memadati gereja dengan wajah penuh harap dan syukur. Longgi menegaskan bahwa krisma bukan sekadar ritus seremonial, tetapi menjadi langkah konkret dalam pendewasaan iman. “Sebagai umat Katolik, kita wajib menerima lima atau enam dari tujuh sakramen. Krisma adalah salah satu yang penting karena memampukan kita menjadi pewarta Injil yang lebih dewasa dan tangguh.”

Sementara itu, dalam kotbahnya, Uskup Keuskupan Agats, Mgr. Aloysius Murwito, OFM menegaskan bahwa krisma tidak pernah membunuh, melainkan menghidupkan.

“Sakramen Krisma menjadikan kamu lebih dewasa. Memberikan kamu kekuatan. Bersyukurlah dan berterima kasihlah kalian yang menerima krisma. Rahmat Tuhan akan menaungi kamu,” ungkap Uskup dengan penuh kasih.

Longgi dengan refleksi yang menyentuh akar budaya mengatakan: “Tuhan sebenarnya sudah ada sejak dulu di tanah ini. Ketika agama datang, kita hanya menyesuaikannya dengan budaya lokal, agar iman dan tradisi berjalan bersama.”

Perayaan krisma kali ini bukan hanya peristiwa rohani, tetapi juga jembatan antara iman dan budaya, antara masa lalu dan masa kini. Di Asmat, krisma tidak hanya menandai kedewasaan individu, tetapi juga kematangan komunitas dalam menghidupi iman yang berpijak pada akar budaya.

Leave a Comment