Posted on: 26/03/2021 Posted by: Frater Adolf OSC Comments: 0

Manusia mau dibentuk dalam berbagai kerumitan aturan apapun tidak akan berhasil,

baik dalam keadaan sadar maupun sebaliknya selama ia hidup, tinggal dan ada.

Sebab manusia pada dasarnya adalah makluk sosial.

Sampai kapan pun dan di mana pun saat pandemi ini berada tetap manusia tidak akan bisa berjarak dan bahkan tidak akan berhasil memahami apa artinya berjarak itu pada saat ini atau selama pandemi masih ada.Mengapa demikian? Pada hal aturan di buat supaya manusia tidak menularkan apa yang jahat dari dalam diri saya untuk orang lain, bukan? Tentu benar dan tidak salah bila saya, anda, atau kita bertanya demikian. Namun pertanyaan itu tetap saja tidak atau belum berhasil pada kenyataan saat ini dan di sini.

Dulu hidup bersama tanpa mempedulikan jarak itu menghasilkan kenyamanan hidup yang memuaskan. Namun kini sebaliknya menjadi sumber maut bagi saya, anda dan kita. Bila demikian apa yang bisa saya lakukan untuk bisa bertahan selama pandemi ini? Dengan cara apa saya harus bertahan hidup? Apakah dengan berdoa? Apakah dengan mengemis? Apakah dengan tetap meneruskan usaha saya selama ini dan mengabaikan kematian orang lain?Saya seharusnya menyadari bahwa sumber hidup itu bukan berasal dari alam, juga bukan berasal dari ruang dan waktu, bukan berasal dari oranglain melainkan sumber kehidupan itu sudah ada dalam diri saya, yakni ada dalam akal budi saya yang maha kreatif itu. Dengan kreatifitas akal budi sayalah yang akan membuat saya bisa hidup tanpa ketakutan dalam masa pandemi ini; bisa membuat saya bisa berjarak saat ini; bisa membuat saya mampu memahami arti keberjarakan itu; bisa membuat saya menjadi pahlawan berjarak terhadap orang seisi rumah dan siapapun di sekitar saya.

Kreatifitas seperti inilah sudah seharusnya dibangun sebelum mengalami masa detik-detik hidup atau sebelum menghirupi udara-udara yang sudah dinodahi oleh kejahatan diri saya atau kejahatan kita manusia.Ada beberapa orang atau kelompok menyatakan dengan tegas bahwa: Saya/kita harus membuat aturan supaya bisa berjarak dengan yang lain. Mengapa saya /kita harus memutuskan ini supaya tidak menularkan apa yang jahat dalam diri saya /kita kepada siapa di sekitar, dengan 3M yakni mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak.

Namun demikian sulitnya menghidupi ini maka kesadaran saya sebagai manusia pun ikut mati terjangkit covid 19. Dengan demikian bahwa daya yang bisa digunakan untuk bertahan adalah membuka lahan kehidupan dalam rumah sejak dahulu yakni berkreasi atau membuat sumber-sumber hidup terdekat tanpa menjumpai siapapun di luar rumah atau di luar lingkungan rumah. Selain itu juga ada cara lain yabg bisa membuat kita tidak perlu membeli keperkuan rumah karena apa yang mau dicari itu semuanya ada di sini alias di rumah atau di lingkungan halaman kita.

Apabila akalbudi kita menghasilkan demikian, maka arti berjarak itu sudah bisa saya sebagai manusia, dan anda refleksikan dalam diri saya, dan pandemi pasti akan berkurang; apabila saya menggunakan kreatifitas akal budi saya secara sadar maka saya bisa menjadi masker bagi diri saya  terhadap oranglain, dan saya bisa menjadi pahlawan berjarak dalam menhidupi relasi kontak batin dengan mereka yang juga sedang berjarak dengan saya.

Leave a Comment