Posted on: 24/04/2025 Posted by: Petrus Letsoin Comments: 0

KOMSOS — Lilin-lilin menyala di tangan umat, langkah perlahan mengiringi perarakan masuk. Di depan, sebuah bingkai besar berisi potret Paus Fransiskus diusung penuh hormat. Suasana sore itu, Kamis 24 April 2025, berubah menjadi perjumpaan yang dalam antara duka dan syukur di Katedral Salib Suci Agats.

Gereja penuh sesak. Wajah-wajah tertunduk dalam hening, menyambut Misa Requem mengenang wafatnya Paus Fransiskus, pemimpin umat Katolik sejagat.

Misa dipimpin oleh Uskup Agats, Mgr. Aloysius Murwito, OFM, bersama 22 Imam keuskupan. Liturgi dijalankan dengan kesederhanaan khas Agats, namun sarat makna dan kekhidmatan. Di tengah duka, terpancar harapan akan hidup kekal dan warisan rohani yang ditinggalkan oleh sang Paus.

Paduan suara Katedral melantunkan lagu-lagu Requem dengan nada sendu namun megah. Suara umat menyatu dalam doa dan kidung, seakan ikut menyertai perjalanan terakhir seorang gembala yang hidupnya telah menjadi lentera di tengah dunia.

Dalam homilinya, Uskup Murwito mengangkat keteladanan Paus Fransiskus yang telah menginspirasi dunia. “Ia bukan hanya Bapa Suci bagi Gereja, tetapi juga suara hati bagi kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa Gereja harus menjadi rumah bagi semua, terutama yang miskin dan tersingkir,” tuturnya.

Lebih lanjut, Uskup mengenang momen istimewa saat Paus Fransiskus mengunjungi Indonesia. “Itu bukan hanya perjalanan pastoral. Itu adalah tanda nyata bagaimana ia hadir sebagai simbol persaudaraan antarumat beragama. Ia dekat dengan tokoh-tokoh dunia, dekat dengan umat Islam, dan dekat dengan hati setiap orang,” ungkapnya penuh haru.

Perarakan yang mendahului misa menjadi simbol nyata kecintaan umat. Lilin-lilin kecil yang dibawa umat menjadi lambang terang iman yang diwariskan oleh Paus. Wajah-wajah umat, meski dibalut kesedihan, tetap menyiratkan damai—sebuah kesaksian bahwa kasih sang Paus tetap hidup dalam hati mereka.

Misa ditutup dengan lagu pengutusan yang menggetarkan jiwa. Saat umat keluar dari gereja, langit Agats tetap kelabu, namun hati mereka penuh terang. Paus Fransiskus telah pergi, namun warisannya tetap menyala di ujung dunia ini—di tanah rawa, di hati umat yang pernah disentuh kasihnya.

Leave a Comment