Posted on: 26/04/2025 Posted by: Petrus Letsoin Comments: 0

KOMSOS AGATS – Pada tanggal 25 April 2025, Suster Veronica Wahyu Indriani merayakan tonggak istimewa dalam hidup panggilannya—25 tahun setia dalam hidup selibat sebagai anggota Kongregasi Sekulir Puteri Santa Angela (PSA). Perayaan ini bukan hanya perayaan pribadi, tapi juga menjadi kesaksian akan kasih Tuhan yang tak terduga, yang memanggil siapa pun yang Ia kehendaki, dari jalan hidup yang tak selalu kita duga.

Perjalanan iman Suster Vero tidak dimulai dari altar, tetapi dari ruang kelas. Lahir dan besar dalam keluarga muslim, benih-benih pencariannya mulai tumbuh saat duduk di bangku SMP. Ia bersekolah di lembaga Katolik, di mana kedisiplinan, kasih, dan pola pembinaan sekolahnya perlahan menyentuh batinnya. Ia melihat sesuatu yang berbeda dalam cara para guru dan para suster membimbing anak-anak muda—dan dari sana, muncul kerinduan untuk mengenal Yesus lebih dalam.

Panggilan itu semakin kuat ketika salah satu anggota keluarganya menikah dengan seorang Katolik. Lewat hubungan keluarga itu, ia semakin dekat dengan kehidupan iman Katolik, hingga akhirnya memilih dibaptis—keputusan yang tidak mudah. “Tentu ada penolakan dari keluarga,” kenangnya, “tapi saya tahu, ini bukan sekadar pilihan agama. Ini adalah panggilan hidup.”

Dalam perjalanannya, Suster Vero sempat bergabung dengan komunitas Suster Ursulin, yang menjadi tempat pertama pembinaan hidup religiusnya. Di sana ia belajar arti hidup doa, pelayanan, dan kebersamaan dalam komunitas. Namun kemudian, ia merasakan panggilan yang lebih kuat ke dalam Kongregasi Sekulir Puteri Santa Angela, sebuah komunitas yang mengedepankan pelayanan Masyarkat, Keluarga dan Komunitas.

Pada 25 April 2000, di Bandung, ia mengucapkan kaul hidupnselibat. Sebuah momen penuh haru dan syukur—sebuah ikrar total untuk mengabdikan hidup bagi Tuhan dalam ketaatan, kemurnian dan kemiskinan.

Kini, setelah dua setengah dekade, Suster Vero tetap menjalani hidup selibat dengan semangat yang sama seperti saat awal panggilannya. Ia hadir di tengah umat, terutama dalam karya pendidikan dan pembinaan kaum muda. Namun yang tak kalah mengharukan adalah bagaimana ia tetap menjalin relasi yang erat dengan keluarganya. Setiap Lebaran, ia pulang, berkumpul bersama, merayakan kebersamaan dalam perbedaan. “Saya katolik, mereka muslim, tapi kami tetap satu keluarga,” ucapnya dengan senyum.

Kesetiaan Suster Vero adalah kisah tentang keberanian untuk mendengarkan suara hati, tentang cinta yang melampaui batas, dan tentang Tuhan yang hadir dalam hidup siapa pun yang terbuka pada-Nya.

Leave a Comment