KOMSOS – Dua puluh lima tahun bukanlah waktu yang singkat. Bagi Suster Veronica Wahyu Indriani, perjalanan hidup selibat dalam komunitas Puteri Santa Angela adalah kisah panggilan yang diwarnai tantangan, air mata, dan syukur yang tak putus. Namun, justru dalam tantangan itu ia merasakan bahwa Tuhan sedang bekerja, membentuk, dan mengingat setiap proses yang harus ia jalani demi pertumbuhan diri dan iman.
“Setiap cobaan membuat saya berubah,” tuturnya dengan mata yang menerawang jauh, seakan memutar kembali rekaman panjang hidupnya sebagai seorang biarawati. “Ketika saya mengalami masa-masa sulit, yang pertama saya lakukan bukan bertanya ‘mengapa’, tapi saya bersyukur. Karena saya percaya, Tuhan tahu apa yang Ia lakukan.”
Dalam setiap langkah hidupnya, doa menjadi nafas yang tak pernah putus. Namun lebih dari itu, pujian dan nyanyian syukur adalah kekuatan utamanya. Lagu-lagu rohani yang ia lantunkan dalam keheningan atau kebersamaan komunitas selalu meresap dalam hati, menghidupkan semangat, dan meneguhkan panggilan.
“Setiap kata dalam lagu itu seperti berbicara langsung kepada saya. Saya merasa dikuatkan, dipapukan,” ucapnya lirih.
Pelayanannya di Tanah Asmat, Papua Selatan, membuka babak baru dalam kisah panggilan itu. Dari kota hingga ke pelosok, ia merasakan cinta Tuhan yang begitu nyata dalam wajah-wajah umat Allah yang sederhana, tulus, dan penuh harapan. Dalam keheningan rimba dan debur air sungai, dalam jerih payah karya sosial, pendidikan, hingga pembinaan iman, Suster Veronica menemukan makna panggilan sejati.
Namun, meski sudah lama berkarya di sana, ada satu kerinduan yang belum sepenuhnya tergenapi: melihat perempuan Asmat bangkit dan tangguh. “Saya ingin perempuan Asmat memiliki tempat. Mereka harus percaya bahwa mereka mampu bersaing dan berperan dalam pembangunan dan kehidupan iman,” katanya penuh semangat.
Melalui berbagai wadah pembinaan yang ada—baik formal maupun informal—Suster Veronica terus menabur harapan. Ia mengajak para perempuan muda untuk berani bermimpi, belajar, dan berdiri teguh dalam nilai-nilai Kristiani. Baginya, keberdayaan perempuan adalah bagian penting dari karya perutusan di Asmat.
“Jangan pernah ragu terhadap Tuhan,” pesannya. “Tuhan tahu kelemahan kita, tapi Ia juga tahu potensi kita. Dan Ia pasti memapukan.”
Kini, di usia panggilannya yang ke-25, Suster Veronica Wahyu Indriani tidak ingin berhenti menjadi pribadi yang lebih baik. Dalam syukur dan lagu, dalam peluh dan pelayanan, ia terus melangkah—bukan karena segalanya mudah, tapi karena ia tahu: panggilan ini adalah anugerah.

