Posted on: 26/04/2025 Posted by: Petrus Letsoin Comments: 0

KOMSOS AGATS – Tanggal 25 April 2025 menjadi hari istimewa bagi Suster Veronica Wahyu Indriani, PSA. Dalam sebuah perayaan sederhana namun penuh makna, ia merayakan 25 tahun hidup membiara dalam kaul. Sebuah perjalanan panjang yang dimulai dengan kegamangan, namun dibentuk oleh kasih, ketekunan, dan semangat pelayanan yang tak pernah padam.

Suster Wahyu pertama kali mengenal tanah Papua pada tahun 1992, saat ia bergabung dengan komunitas Suster Ursulin dan diutus ke Ewer, sebuah kampung kecil di wilayah Keuskupan Agats, Asmat. Keindahan alam Papua tidak serta merta menjadi pelipur lara. Justru, perbedaan budaya, bahasa, makanan, dan pola hidup masyarakat membuatnya mengalami shock culture yang cukup dalam.

“Segalanya terasa asing. Saya seperti kehilangan arah,” kenang Suster Wahyu dalam salah satu perbincangan penuh kehangatan. Ia bahkan sempat berpikir untuk kembali ke tempat asalnya. Namun, Tuhan bekerja dengan cara yang tak terduga.

Di sebuah sore yang lengang, di sudut pelabuhan kampung Ewer, ia duduk bersama anak-anak yang dengan riang menyanyikan lagu daerah: “Siapa suru datang ke Asmat, sendiri suruh sendiri rasa………” Bait lagu itu seperti menampar hatinya. Air matanya mengalir tak tertahankan. Lagu yang sederhana, namun penuh makna itu menggambarkan betul pergulatan batinnya.

Seorang perempuan muda, menyadari kegundahan hati Vero. Ia mendekat dan berkata, “Ibu Guru, jangan pulang. Kami butuh Ibu Guru di sini.” Kalimat itu menjadi titik balik. Sebuah dukungan tulus dari hati Asmat yang membuka kembali pintu harapan.

Hari berlalu dan akhirnya Suster Vero kemudian melanjutkan studi dan mematangkan panggilan hidupnya. Hingga pada tanggal 25 April 2000, ia mengucapkan kaul pertama dalam Kongregasi Puteri Santa Angela (PSA), menandai awal hidup bakti secara resmi.

Sejak saat itu, ia kembali mengabdikan diri di Keuskupan Agats. Ia terlibat dalam berbagai pelayanan pastoral dan sosial, mendampingi umat, anak-anak, kaum perempuan, serta menjadi bagian dari berbagai komisi yang mendukung kehidupan gereja lokal.

Baginya, Asmat bukan lagi tempat asing, melainkan tanah perutusan yang diberkati. “Melayani di Asmat adalah sebuah anugerah,” ujarnya penuh keyakinan. Di antara lumpur dan rawa, ia menemukan kekuatan Injil yang hidup. Di balik keterbatasan dan tantangan, ia menemukan wajah-wajah Kristus yang perlu disapa dan dilayani.

Kini, dalam usia pengabdian yang ke-25 tahun, Suster Vero tetap melangkah dengan semangat awal yang utuh: mencintai dan melayani dengan sepenuh hati. Ia tidak hanya membawa terang, tetapi juga menjadi saksi bahwa kasih Allah mampu menumbuhkan kehidupan di tempat yang paling sederhana sekalipun.

Leave a Comment