Posted on: 26/04/2025 Posted by: Petrus Letsoin Comments: 0

KOMSOS – “Tidak ada kata lain selain terima kasih dan syukur.”

Demikian sepenggal pernyataan penuh makna dari Mgr. Aloysius Murwito, OFM, Uskup Keuskupan Agats, saat memberikan refleksi tentang perjalanan hidup panggilan seorang pribadi yang amat berarti bagi Keuskupan Agats: Suster Veronica Wahyu Indriani, atau yang akrab disapa Suster Vero.

Suster Vero bukanlah nama asing di tanah Asmat. Sebelum banyak dari kita mengenal bumi Papua Selatan, ia sudah lebih dahulu hadir, menyusuri stasi demi stasi, mendidik, membina, dan menjadi sahabat bagi umat. Keberadaannya tidak hanya sebagai seorang sekulir PSA, tetapi juga sebagai pendidik, katekis, penggerak pastoral, dan figur keibuan bagi banyak anak dan remaja, terutama melalui karya besarnya dalam membangun dan mengelola asrama putri.

“Dari dulu dia tidak berubah,” kenang Mgr. Aloysius dengan hangat. *”Dia punya segudang pengalaman. Bisa dibukukan.”

Sebagai Spesialis Guru Agama Katolik, Suster Vero telah mendedikasikan dirinya dalam bidang katekese dan pendidikan. Ia terlibat langsung dalam proses pembinaan iman umat di berbagai wilayah, mengunjungi stasi-stasi terpencil, dan memberikan pendampingan rohani dan karekater yang kokoh.

Namun, pengabdiannya tidak hanya berhenti di ruang kelas atau altar. Suster Vero dikenal luas, tidak hanya di kalangan Katolik, tetapi juga oleh masyarakat umum. Ia turut berperan dalam berbagai kegiatan keuskupan, menjadi bagian dari denyut kehidupan Gereja lokal yang hidup dan penuh semangat.

“Saya amat merasakan kehadiran Saudari Vero di Keuskupan Agats,” ungkap Uskup Murwito. “Keterlibatanmu sungguh membantu Keuskupan Agats.”

Yang membuat kisah Suster Vero semakin istimewa adalah identitasnya sebagai bagian dari kelompok sekulir yang menghayati hidup religius. Sebuah jalan hidup yang menuntut pilihan, perjuangan, dan komitmen total.

“Hidup Vero membutuhkan perjuangan. Hidup secara khusus tetapi harus memilih. Ternyata Vero bisa bertahan dan setia hingga 25 tahun,”lanjut Uskup.

Setia dalam panggilan selama seperempat abad bukanlah perjalanan yang mudah, apalagi di wilayah misi seperti Asmat yang penuh tantangan. Namun dari semua itu, tampak terang wajah panggilan yang matang, konsisten, dan penuh cinta. Cinta kepada Tuhan, kepada Gereja, dan kepada umat-Nya.

Menutup kesaksian ini, Uskup Aloysius menegaskan kembali rasa syukur dan terima kasihnya:

“Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Suster Vero. Tidak ada kata selain terima kasih dan syukur.”

Suster Vero adalah teladan tentang bagaimana hidup yang dipersembahkan dengan utuh mampu menjadi berkat bagi banyak orang. Kisahnya pantas ditulis, dikenang, dan dibagikan—agar semangat panggilan tetap hidup dan menyala, menembus rawa, hutan, dan hati manusia.

Melalui refleksi ini, Kita diajak untuk tidak hanya mengenang karya Suster Veronica, tetapi juga mengajak seluruh umat untuk mensyukuri kehadiran pribadi-pribadi yang terus menyalakan pelita harapan di tengah dunia.

Leave a Comment