Posted on: 03/07/2025 Posted by: Petrus Letsoin Comments: 0

KOMSOS – Suasana malam itu penuh haru. Dua Komunitas Basis (Kombas),St. Maria dan Elisabeth, menggelar ramah tamah sederhana untuk melepas para peserta Pertemuan iman Peserta Papua Youth Day (PYD) II yang selama tiga hari terakhir tinggal dan belajar bersama mereka. Malam terakhir sebelum kembali, tangis dan tawa menjadi satu. Tak ada yang mampu menyembunyikan perasaan sedih dan rasa syukur yang mendalam.

Agustina Sedik, salah satu peserta Keuskupan Agats, bercerita sambil menahan air mata:

“Saya merasa seperti pulang ke rumah… dan menjadi pulang yang sesungguhnya. Selama disini saya belajar sablon baju, mulai dari menerima pesanan, proses pembuatan, sampai hasil akhirnya. Tapi yang paling besar saya pelajari adalah rasa diterima, dicintai, dan dihargai sebagai keluarga. Terima kasih untuk semuanya,” ucapnya dengan suara bergetar.

Sementara itu, Margertha Maria Alaqouce, peserta dari Paroki St. Monica Kaimana Kesukupan Sorong – Manokwari. Ia juga berbagi kisah penuh makna:

“Kami bersyukur bisa tinggal bersama Bunda Tiwi. Di sana hidup doa kami jadi teratur. Keluarga Bunda Tiwi adalah teladan. Mereka hidup sederhana, rukun, penuh cinta, dan selalu menggereja. Kami belajar membuat kue, kami olahraga Sumba bersama, dan setiap hari kami merasa seperti anak sendiri di rumah Bunda. Terima kasih Bunda Tersayang, sudah menganggap kami seperti anak-anakmu sendiri,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Malam itu, pelukan, tangis, dan tawa mengisi ruangan. Seluruh peserta merasakan betapa kuatnya kasih dalam keluarga-keluarga yang menerima mereka. Walau hanya tiga hari, ikatan itu terasa seperti telah terjalin bertahun-tahun.

Tak ada yang menyangka perpisahan akan terasa seberat ini. Tapi semua sadar, pengalaman ini akan menjadi bekal iman, kasih, dan persaudaraan yang akan terus dibawa ke mana pun mereka pergi.

Komunitas Basis Maria dan Elisabeth telah mengajarkan arti rumah, bukan hanya sebagai tempat tinggal, tapi sebagai ruang di mana kasih, penerimaan, dan persaudaraan tumbuh tanpa batas.

Leave a Comment