KOMSOS – Pada pukul 12.53 WIT, Mgr. Aloysius Murwito, OFM, Uskup Keuskupan Agats, meninggalkan pelabuhan Agats menuju Paroki Martir-Martir Muda Uganda, Komor. Perjalanan ini diperkirakan hanya memakan waktu satu setengah jam oleh sang pengemudi, Remon Rumlus. Namun, gelombang muara yang tinggi membuat perjalanan sedikit lebih lama. Tepat pukul 14.00 WIT, speedboat Maria Bintang Laut yang bermesin ganda 85 PK akhirnya merapat di tepian Kampung Komor.

Perjalanan menyusuri kali Unir berlangsung dengan tenang dan terarah. Dari kejauhan, perkampungan Komor mulai tampak. Umat sudah bersiap menyambut sang gembala. Kepala Distrik Unir Sirau, Bernard Jamlean, sempat menghubungi lewat telepon untuk memastikan posisi rombongan. Di kampung, umat telah berbaris di jalan-jalan, menantikan kedatangan Uskup mereka.

Ketika speedboat Uskup menepi, umat sigap menyusun papan sebagai jembatan dari speed ke jembatan. Dengan penuh kehati-hatian dan hormat, umat membantu Mgr. Murwito turun dan berjalan menyusuri sambutan penuh sukacita. Suasana begitu riuh dengan pekikan, sorak-sorai, bunyi tifa, dan lantunan nyayian OMK yang menggema dari balik pohon dan semak lumpur.

Tiba-tiba, sekelompok penari tradisional muncul dari balik semak-semak, memberikan kejutan sukacita. Mereka menari dengan semangat, menambah semarak suasana penyambutan.

Eski Sesiap, anggota Dewan Pastoral Paroki Komor, menjelaskan bahwa penjemputan kali ini memang terasa meriah meski dengan pembatasan. “Sebenarnya umat dari tiga kampung—Komor, Par, dan Amor—berencana hadir. Namun karena mempertimbangkan kondisi kesehatan Bapa Uskup, hanya Dewan dan OMK yang diperkenankan menyambut secara langsung. Kami hanya menghindari kerumunan,” ujarnya.

Hari itu, Paroki Komor tampil bersolek. Umat menghiasi lingkungan dengan pisis—pucuk sagu yang biasa digunakan dalam upacara adat—serta membersihkan kampung sebagai wujud penghormatan dan sukacita atas kedatangan gembala mereka.

Kehadiran Uskup di tengah umat bukan hanya simbol kehadiran Gereja, tetapi juga sebuah peristiwa penuh makna iman dan persaudaraan. Di tanah lumpur itu, umat Komor sekali lagi menunjukkan cinta mereka kepada sang gembala yang datang membawa damai dan harapan

