KOMSOS – Suasana Aula Puspas, Senin malam (15/09/2025), dipenuhi wajah-wajah bahagia. Malam itu, umat Asmat bersyukur atas rahmat Tahbisan Episkopal Mgr. Aloysius Murwito, OFM. Namun di balik lantunan doa dan ucapan syukur, sebuah suara dari pemimpin daerah memberi warna tersendiri: suara Bupati Asmat, Thomas Eppe Safanpo.

Dengan nada lirih bercampur penuh rasa hormat, Thomas mengawali kisahnya. Ia bukan sekadar hadir sebagai bupati, melainkan sebagai seorang anak Asmat yang pernah ditempa langsung oleh perhatian Gereja dan Uskup.

“Saya awalnya hanya mengenal sebagian kecil Asmat, paling beberapa distrik saja. Setelah kembali dari studi, saya ditugaskan Bapa Uskup untuk kegiatan Ansos. Dari situ saya keliling seluruh Asmat, mengenal betapa luas wilayah pelayanan, dan betapa banyak suku yang hidup di sini,” kenangnya.
Tugas sederhana itu ternyata menjadi titik balik dalam hidupnya. Dari perjalanan yang melelahkan, Thomas justru menemukan panggilan lain: keterpanggilan untuk memahami masyarakatnya lebih dalam. Diam-diam ia mulai memetakan wilayah, menyimpan catatan demi catatan, hingga akhirnya tiga dekade kemudian, catatan itu menjelma jadi fondasi kepemimpinannya sebagai Bupati.

“Saya berutang kepada Bapa Uskup. Kalau tidak karena kesempatan itu, saya mungkin tidak berdiri di sini sebagai pemimpin daerah,” ucapnya dengan mata berkaca.
Bupati Thomas tak menutupi kenyataan bahwa Gereja dan Keuskupan adalah ibu yang membesarkan generasi Asmat.
“Kami dulu begitu jauh dari Merauke. Pendidikan terbatas, perhatian pun kurang. Tetapi Gereja hadir. Kami bisa sekolah sampai ke Jayapura berkat beasiswa Keuskupan. Tanpa cinta dan kepedulian Gereja, generasi Asmat tidak akan seperti hari ini,” tuturnya penuh syukur.

Dalam balutan suasana hangat, ia mengulurkan janji. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri tanpa Keuskupan. “Keuskupan adalah mitra pemerintah dalam membangun manusia Asmat. Sejarah mencatat, Asmat adalah tanah misi. Saat orang enggan masuk, Gereja hadir lebih dulu, bahkan sebelum pemerintah,” katanya mantap, disambut anggukan umat yang hadir.
Ucapan penutupnya sederhana, tapi sarat makna: doa bagi seorang gembala yang telah membimbing umat selama puluhan tahun.
“Semoga Bapa Uskup sehat selalu, kuat, agar kita bisa merayakan ulang tahun beliau bersama pada Desember nanti. Proficiat, Bapa Uskup!”

Di malam penuh syukur itu, kisah Bupati Thomas menjadi pengingat: betapa perjumpaan dengan seorang gembala bisa mengubah arah hidup seorang anak kampung, menuntunnya hingga menjadi pemimpin bagi bangsanya. Sebuah utang syukur yang tak akan pernah lekang dari hatinya.

