KOMSOS – Siang itu, langit Nabire cerah seakan menyambut sesuatu yang istimewa. Ibu Kota Papua tengah yang berada di teluk Cenderawasih itu dipenuhi sukacita. Ribuan umat Katolik berbondong-bondong memadati Jalan Jenderal Sudirman, berdiri di bawah terik matahari, menanti dengan harap dan bangga. Nabire menyambut seorang gembala, untuk pertama kalinya dalam sejarahnya. Uskup Keuskupan Timika yang baru, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA.
Dari kejauhan, suara nyanyian adat dan sorakan penuh semangat dari mama mama. Orang dewasa mengenakan busana adat lengkap, dan anak-anak menari riang dengan hiasan dan ornamen dari rajutan kulit kayu. Di barisan depan, seorang anak kecil menyodorkan panah kecil ke hadapan Uskup sambil tersenyum malu-malu.
Uskup Bernardus pun tiba, wajahnya bersinar dalam damai. Ia diarak oleh umat dari jalan utama menuju Gereja Kristus Sahabat Kita (KSK), sebuah perjalanan singkat yang penuh makna dan kasih. Tangannya tak henti melambai, menyalami satu per satu umat yang ingin menyentuh nya. Anak-anak dengan polos dan gembira mencium cincin uskup sebagai tanda hormat dan kasih.
Di dalam gereja yang telah dipenuhi umat, suara nyanyian rohani daerah bergema, berpadu dengan sorakan sukacita. Saat tiba waktunya menyampaikan sapaan pastoral, Uskup Bernardus berdiri dengan tenang dan anggun. Dalam suaranya yang lembut namun tegas, ia menyampaikan tiga pesan utama:
“Saling mendengarkan. Saling bertanya dan menjawab, saling berdiskusi dan bekerja bersama demi kebaikan bersama (Bonum Comune).”
Kata-katanya menusuk hati, sederhana namun penuh kedalaman. Ia mengajak umat dan kaum muda Katolik, peserta Papua Youth Day II, untuk membangun budaya dialog dan kepedulian. Gereja, katanya, bukan hanya tempat ibadah, tapi rumah untuk bertumbuh bersama dalam kasih Kristus.
Di akhir pertemuan syukur, mama-mama WKRI (Wanita Katolik Republik Indonesia) maju ke depan, membawa sejumlah noken adat suku Mee, suku Moni, kamoro, dan Nduga . Dalam suasana penuh haru, mereka mengalungkan noken itu ke leher Uskup sembari memberi nama adat:
Mgr. Bernardus Bofitwos Damokebaibi Baru, OSA
“Aku lah pintu” — nama suci dalam bahasa Mee.
Seketika, tepuk tangan menggema. Nama itu bukan sekadar gelar, tapi panggilan jiwa. Sebuah pengakuan bahwa sang Uskup kini menjadi pintu bagi umatnya; pintu harapan, pintu penghiburan, dan pintu kasih Tuhan bagi umat Papua tengah – Keuskupan Timika.
Sebelum meninggalkan gereja, Uskup memberkati umatnya satu per satu. Pelukannya hangat, senyumnya tulus. Tak ada jarak antara gembala dan kawanan dombanya. Hari itu, sejarah tercatat di tanah Nabire: seorang uskup datang untuk pertama kalinya, dan ia datang bukan hanya sebagai pemimpin umat katolik, tapi sebagai seorang ayah, saudara, dan sahabat sejati.

