Posted on: 03/07/2025 Posted by: Petrus Letsoin Comments: 0

KOMSOS — Dalam suasana penuh syukur, Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA memimpin Perayaan Syukur sekaligus Pembukaan Papua Youth Day (PYD), sebuah momentum besar bagi Orang Muda Katolik Papua untuk memperdalam iman dan mempererat persaudaraan. Pada kesempatan istimewa ini, Uskup menyampaikan pesan mendalam yang diambil dari bacaan Kitab Suci Efesus 2:19-22 dan Injil Yohanes 20:24-29, bertepatan dengan Peringatan Rasul Thomas.

Rasul Thomas: Teladan Sikap Kritis dalam Beriman

Dalam homilinya, Mgr. Bernardus mengangkat figur Rasul Thomas sebagai gambaran nyata dari pribadi yang kritis dan tidak mudah percaya begitu saja terhadap cerita atau kabar dari orang lain. Rasul Thomas dikenal sebagai salah satu murid Yesus yang memiliki keunikan karakter, yaitu tidak mudah menerima informasi tanpa membuktikannya sendiri.

Ketika para rasul lain bersaksi bahwa mereka telah melihat Yesus yang bangkit, Thomas menolak untuk percaya sebelum ia sendiri melihat dan menyentuh bekas luka di tubuh Yesus. Sikap ini tertuang dalam Injil Yohanes 20:24-29, yang menampilkan pergulatan iman Thomas hingga akhirnya ia menyatakan, “Ya Tuhanku dan Allahku!” setelah berjumpa secara langsung dengan Yesus.

Namun, Yesus memberikan penegasan penting yang menjadi pesan bagi semua orang beriman, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh 20:29).

Pesan Bagi Orang Muda Papua: Jadilah Pribadi Kritis dan Damai

Melalui kisah Rasul Thomas, Uskup Bernardus mengajak seluruh Orang Muda Papua untuk meneladani karakter kritis dalam menerima berbagai informasi, baik dari orang lain maupun media sosial. Di era digital saat ini, derasnya arus informasi sering kali membawa kabar bohong, provokasi, atau isu-isu yang dapat memicu perpecahan, baik secara agama, etnis, maupun politik.

“Sikap tidak mudah percaya terhadap setiap omongan dan informasi adalah bagian dari upaya menciptakan suasana damai, aman, dan harmonis di tengah masyarakat kita,” tegas Uskup.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa pribadi yang kritis adalah pribadi yang mampu menyaring informasi, tidak mudah terprovokasi, dan dapat menjaga rahasia demi stabilitas serta ketenangan bersama. Sebaliknya, mereka yang mudah percaya begitu saja tanpa menelaah informasi adalah pribadi yang rentan tertipu, mudah diprovokasi, dan menjadi sumber kerusuhan di tengah masyarakat.

Iman Bukan Sekadar Apa yang Dilihat

Dalam renungannya, Uskup Bernardus juga menegaskan bahwa iman sejati tidak hanya lahir dari apa yang dapat dilihat atau dirasakan secara fisik, melainkan dari keyakinan dan kepercayaan yang tumbuh dalam hati. Iman adalah sebuah sikap percaya yang kokoh, meskipun tidak semua hal dapat dibuktikan dengan mata kepala sendiri.

“Fides et credere — iman dan percaya, bukan tergantung semata pada apa yang terlihat secara lahiriah, tetapi tumbuh dari relasi kita yang mendalam dengan Tuhan,” ujar Uskup.

Keberagaman Karakter, Satu Tujuan: Memajukan Gereja dan Bangsa

Menutup pesannya, Mgr. Bernardus mengingatkan bahwa sebagaimana para rasul memiliki karakter yang beragam, demikian pula Orang Muda Papua memiliki keunikan masing-masing yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan positif. Keberagaman karakter ini harus diarahkan untuk menumbuhkan iman, mematangkan kedewasaan rohani, dan mewujudkan karya nyata bagi kemajuan Gereja, masyarakat, dan bangsa.

“Anak-anak muda, kalian adalah harapan masa depan. Dengan karakter yang positif, kritis, dan beriman, kalian dapat menjadi agen perubahan yang membawa damai dan kemajuan,” pungkas Uskup Bernardus.

Papua Youth Day menjadi momen refleksi, perjumpaan, dan peneguhan iman bagi generasi muda Papua agar mampu menjawab tantangan zaman dengan bijaksana, tetap berpijak pada iman, serta berkontribusi bagi Gereja dan Tanah Papua tercinta.

Leave a Comment