Posted on: 30/03/2026 Posted by: Petrus Letsoin Comments: 0

KOMSOS – Dalam suasana penuh kesungguhan dan harapan, para Maper, Suster, imam, dan religius, di Keuskupan Agats mengikuti pembekalan liturgi yang berfokus pada pendalaman Tata Perayaan Ekaristi (TPE) Baru.

Kegiatan ini menjadi momen penting dalam memperbarui pemahaman sekaligus memperdalam spiritualitas liturgi, khususnya menjelang Pekan Suci.Pembekalan yang berlangsung selama dua hari, Senin hingga Selasa, 30–31 Maret 2026, bertempat di Aula Puspas Agats, menghadirkan narasumber kompeten, yakni RD Yance Sengga, yang merupakan anggota Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia.

Kehadiran beliau memberikan bobot tersendiri, mengingat TPE Baru merupakan pedoman resmi yang menjadi acuan seluruh Gereja Katolik di Indonesia dalam merayakan Ekaristi.Pembekalan TPE Baru, peserta diajak untuk memahami struktur, serta dinamika perayaan Ekaristi secara lebih utuh. Setiap bagian mulai dari ritus pembuka hingga ritus penutup memiliki makna teologis yang mendalam dan tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan misteri iman.Dalam sesi-sesi pembekalan, peserta diajak untuk menelusuri kembali tata perayaan liturgi.

Setiap ritus memiliki kekhasan tersendiri yang harus dijaga keasliannya sesuai TPE Baru.

Dalam sambutan pembukaan, Mgr. Aloysisus Murwito, OFM., Uskup Keuskupan Agats memberikan penegasan yang kuat kepada seluruh peserta. Ia mengajak para imam mengikuti pembekalan dan dapat menerapakan dalam peryaan ekeristi.

Ajakan ini menjadi refleksi penting: bahwa liturgi yang baik bukan hanya benar secara rubrik, tetapi juga mampu menggerakkan iman umat. Ketepatan tata perayaan harus berjalan seiring dengan kedalaman spiritualitas.Salah satu tujuan utama dari pembekalan ini adalah menciptakan keseragaman dalam pelaksanaan liturgi di seluruh wilayah Keuskupan Agats.

Dengan pemahaman yang sama terhadap TPE Baru, diharapkan tidak terjadi perbedaan yang mencolok dalam praktik liturgi.Pembekalan ini menjadi langkah awal menuju pembaruan liturgi yang lebih hidup, kontekstual, dan bermakna. Para imam, religius, diharapkan menjadi motor penggerak dalam menghadirkan liturgi yang tidak hanya indah secara ritus, tetapi juga menyentuh hati umat.

Leave a Comment