Posted on: 16/04/2025 Posted by: Petrus Letsoin Comments: 1

Stasi Meda – Kabut tipis menyelimuti perairan saat speedboat Maria Bintang Laut memecah sunyi di antara rintangan tebu rawa yang tumbuh liar. Mgr. Aloysius Murwito, OFM, Uskup Keuskupan Agats tengah menempuh perjalanan panjang menuju stasi Meda, salah satu wilayah pelayanan Gereja yang tersembunyi di pedalaman. Perjalanan itu memakan waktu hingga tujuh jam melewati sungai dan jalur air sempit yang nyaris tak dikenali. Untung saja ada OMK yang setia menunjukkan jalan.

Bukan perjalanan biasa. Ini adalah kunjungan kasih. Sebuah kunjungan yang meski tanpa sorotan lampu atau sambutan megah, membawa kehangatan bagi umat yang merindukan kehadiran gembalanya.

Ketika akhirnya speedboat bersandar di dermaga sederhana, suasana hening menyambut rombongan. Tak ada keramaian seperti biasanya. Tidak tampak barisan umat atau deretan anak-anak berpakaian adat seperti lazimnya penyambutan seorang Uskup.

Namun, satu sosok berdiri di sana. Seorang mama, dengan mata penuh air dan senyum yang tak bisa disembunyikan. Tanpa kata, ia melangkah pelan, lalu memeluk erat Bapa Uskup. Ia mengalungkan mahkota adat di kepala sang gembala, sebagai lambang penghargaan dan rasa cinta. Dalam pelukannya, terselip rindu dan syukur yang tak perlu dijelaskan.

Tak lama kemudian, terdengar suara langkah-langkah kecil dan tawa anak-anak. Dari balik rumah dan semak, anak-anak serta remaja stasi muncul satu per satu. Mereka menari dengan penuh semangat, mencium tangan Bapa Uskup, memeluk Suster, dan memancarkan kegembiraan yang sulit diungkapkan kata.

Mengapa umat tak ramai hadir?

Ternyata sebagian besar umat di Stasi Meda tengah sakit. Wabah demam dan batuk menyerang kampung itu sejak beberapa hari sebelumnya. Banyak yang terbaring lemah, tak mampu berjalan jauh ke dermaga. Sebagian yang semula mencari nafkah di bevak pun kembali terburu-buru ketika mendengar kabar bahwa Bapa Uskup sudah tiba.

Meski secara fisik tak banyak yang hadir, kehadiran Bapa Uskup menyentuh hati seluruh kampung. Ia bukan datang membawa kemewahan, tetapi membawa harapan. Dalam setiap senyum, pelukan, dan doa yang ia bagikan, umat merasa diteguhkan.

Hari itu, Gereja tak hadir dalam bentuk bangunan megah atau misa meriah. Gereja hadir dalam perjalanan yang panjang, dalam peluh yang menetes saat menembus rawa, dalam pelukan mama di dermaga, dalam tarian anak-anak, dan dalam diam umat yang menyimak dari kejauhan.

Karena Gereja sejatinya adalah perjumpaan. Dan kasih, sekali pun tak selalu terlihat, akan selalu menemukan jalannya.

1 people reacted on this

  1. Terima kasih Bung Peter…artikel yang begitu menyentuh … Pelayanan kasih Bapak Uskup di alam keheningan namun senyum sukacita umat Meda ketika Bapak Uskup tiba di urat tanah berpasir di tengah rawa ini

Leave a Reply to John Ohoiwirin Cancel reply