Posted on: 25/09/2025 Posted by: Petrus Letsoin Comments: 0

KOMSOS – Misa penutupan Animasi Keluarga di Keuskupan Agats berlangsung khidmat dan penuh makna. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Agats, RD. Innocentus Rettobjaan, dan didampingi oleh RD. Yanto Bria serta RD. Frido Sariman. Kamis (25/09/2025).

Dalam homilinya, Pastor Innocentus mengajak umat untuk merenungkan bacaan pertama yang menyinggung sikap umat yang enggan membangun rumah Tuhan. Pertanyaan mendasar kemudian diajukan: Apakah kita sungguh menjadikan keluarga sebagai gereja rumah tangga (ecclesia domestica)?

“Jika rumah tangga hancur, maka gereja pun akan hancur,” tegas Pastor Innocentus. Oleh karena itu, ajakan untuk memperbaiki rumah Tuhan harus dimulai dari keluarga, sebab keluarga adalah elemen paling mendasar dalam masyarakat maupun kehidupan iman.

Bacaan Injil yang sengaja diambil hari ini menampilkan kisah Yesus yang mengunjungi rumah Lewi atau Matius, seorang pemungut cukai. Meskipun banyak desas-desus dan penolakan, kunjungan Yesus justru melahirkan pertobatan. Lewi dengan penuh iman kemudian menyatakan diri untuk mengikuti Yesus.

Yesus menegaskan, “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Pesan ini, menurut Vikjen, menjadi refleksi bagi umat untuk tidak cepat menghakimi keluarga lain. “Sering kali kita memulai dengan menghakimi. Bila kita mengawali dengan menghakimi, maka pintu kasih tidak akan terbuka,” ujarnya.

Pastor Innocentus kemudian membagikan pengalamannya sejak pertama kali ditugaskan Uskup Murwito di Mbait pada tahun 2013, yang kala itu masih berstatus stasi. Tantangan awal yang ia hadapi adalah minimnya partisipasi umat dalam kehidupan menggereja.

Namun, ketika ia mulai melakukan kunjungan dari rumah ke rumah, hasil yang mengejutkan muncul. “Ada seorang bapak yang merasa terganggu dengan kunjungan itu. Tapi ternyata terganggu karena ia tersentuh dan akhirnya kembali ke gereja setelah sekian lama menjauh,” kisahnya.

Bagi Vikjen, pengalaman itu menjadi bukti nyata bahwa pastoral keluarga harus dimulai dengan langkah sederhana: hadir, berkunjung, dan mendengar.

“Tidak ada metode lain selain berkunjung dari keluarga ke keluarga, dari komunitas ke komunitas. Dengan itu kita akan berjalan bersama,” ungkapnya.

Misa penutupan ini meneguhkan kembali bahwa pastoral berbasis keluarga adalah kunci perutusan Gereja di tengah dunia. Refleksi yang diangkat mengingatkan umat akan pentingnya saling mengunjungi dan saling menguatkan.

“Semoga Tuhan menguatkan kita dalam tugas pelayanan pastoral, agar setiap keluarga sungguh menjadi gereja rumah tangga yang hidup,” tutup Vikjen.

Leave a Comment