Posted on: 28/05/2025 Posted by: Petrus Letsoin Comments: 1

KOMSOS – Sore itu, hujan baru saja reda dan langit mulai memperlihatkan semburat jingga di ufuk barat sedangkan angin dari arah sungai membawa aroma tanah basah dan kayu, menyusup pelan ke halaman Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat. Satu per satu, rombongan remaja putri berjalan masuk ke kompleks museum, mengenakan pakaian kasual namun penuh semangat. Mereka datang dari Asrama Puteri St.Theresia, binaan komunitas suster TMM. Asrama ini bagian dari generasi muda Asmat yang kini tumbuh di persimpangan antara budaya leluhur dan dunia modern.

Kunjungan ini bukan kunjungan biasa. Komisi Kebudayaan Keuskupan Agats, lewat program Literasi Budaya, sedang berusaha menjalin kembali benang yang sempat renggang antara generasi muda khususnya para remaja perempuan dengan akar budaya mereka yang kaya dan dalam. Kegiatan ini dipandu langsung oleh Santi Ndicim, staf museum yang dikenal dekat dengan anak-anak muda. Dengan sabar dan antusias, Santi mengajak para peserta menyusuri lorong-lorong museum, menjelaskan makna ukiran-ukiran, topeng, peralatan adat, dan simbol-simbol sakral Asmat.

“Setiap benda yang kalian lihat di sini bukan hanya pajangan,” ujar Santi sambil menunjuk sebuah ukiran. “Ia adalah cerita. Ia adalah roh leluhur yang hidup. Dan kalian, anak-anak perempuan Asmat, punya hak dan tanggung jawab untuk mengenalnya.”

Para remaja mendengarkan dengan saksama, sesekali bertanya dan berbagi pengalaman mereka sendiri tentang bagaimana mereka pernah menyaksikan ukiran dibuat oleh kakeknya, atau ingatan samar akan tarian-tarian yang dahulu dibawakan ibu mereka di kampung. Di mata mereka mulai tampak kilau—kilau pengakuan dan rasa memiliki.

John Ohoiwirin, Ketua Komisi Kebudayaan sekaligus Direktur Museum, menyambut langsung para peserta. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kegiatan ini memang dirancang khusus untuk remaja perempuan.

“Kita sering lupa, bahwa perempuan Asmat bukan hanya pewaris budaya, tetapi juga pengasuhnya. Dari mereka lahir narasi-narasi baru, yang bisa menjembatani masa lalu dan masa depan. Itulah kenapa kita hadirkan program ini agar kalian tahu bahwa budaya ini milikmu, dan kamu punya peran dalam menjaganya.”

Kegiatan itu pun menjadi semakin hidup ketika Agnes Gambujap, seorang kaka senior dan kini mantan mahasiswi, tampil berbicara. Dengan suara lembut namun tegas, Agnes membagikan kisahnya tentang bagaimana ia sempat merasa asing saat kuliah di luar Papua, bagaimana ia bertemu banyak budaya baru, namun justru menemukan kembali jati dirinya sebagai perempuan Asmat.

“Saya pernah ragu, apakah orang lain bisa menerima siapa saya ini. Tapi ternyata, saat saya mulai mengenalkan ukiran Asmat, cerita dari kampung, bahkan makanan tradisional kita justru banyak orang yang kagum. Dari situ saya sadar, bahwa budayaku bukan penghalang, tapi kekuatan,” kata Agnes, memandang para peserta dengan tatapan yang membesarkan hati.

Para remaja terdiam, beberapa menunduk, merenungi kata-kata yang baru saja mereka dengar. Di tengah kesibukan sekolah, tekanan dari luar, dan keraguan yang kadang muncul, sore itu mereka kembali diingatkan siapa mereka sebenarnya.

Malam pun turun perlahan, namun semangat para remaja itu justru menyala. Mereka pulang membawa lebih dari sekadar cerita. Mereka membawa kesadaran baru, bahwa menjadi perempuan Asmat adalah kehormatan, dan mewarisi budaya leluhur adalah panggilan yang patut dibanggakan.

Malam itu, Museum Asmat tak hanya jadi tempat menyimpan artefak. Ia menjadi ruang bertumbuh tempat generasi baru menemukan kembali akar, harapan, dan kekuatan dalam dirinya sendiri sebagai perempuan Asmat

1 people reacted on this

  1. Membaca liputan ini yg sengaja menukik lebih dalam membedah rasa, ingatan dan mimpi dari perempuan Asmat yang bertumbuh di era modern ini ada kesan kuat hendak mengundang opsi-opsi kita untuk praktek-praktek peremajaan kebudayaan Asmat dalam konteks Peziarah Pengharapan sebagai Gereja Katolik berwajah Asmat.

Leave a Comment